Delusinasi

6:48:00 AM 0 Comments A+ a-

kamu pasti bingung bagaimana kita yang bersebrangan sampai bisa duduk berhadapan saat ini. pertanyaan yang wajar karena saya juga menanyakannya, dan sampai saat ini tidak tahu jawaban pastinya. sama-sama bingung, sama-sama menerka rencana besar.

Sejauh ini saya menganggap bahwa kamu adalah inhaler pelega nafas yang tersendat karena hidung yang mampet. kamu adalah campuran minyak zaitun dan body lotion yang digunakan untuk memijat ketika badan terasa remuk. kamu adalah confetti di setiap kejutan ulang tahun. kamu adalah gelak tawa yang memancing air mata untuk ikut bersuka ria. kamu adalah sesuatu yang diturunkan Tuhan dari arsy ketika saya sudah mulai mengambil kesimpulan bahwa hidup saya hanyalah bagian kecil dari data statistik. Beberapa tahun hidup paralel dalam ketidak-miripan hingga akhirnya berpapasan pada satu titik kesamaan. kamu adalah satu diantara tonggak-tonggak yang menegaskan betapa kerdilnya perasaan kita dapat dipermainkan tanganNya. Betapa semua kriteria pasangan hidup major dan minor yang saya hindari nyatanya semuanya bisa ada dalam diri kamu, dan betapa saya tidak bisa lepas dari candu keberadaanmu.

Tapi bagaimana jika ternyata selama ini saya delusional saja. bagaimana jika ternyata kamu adalah tamparan paling keras dari Tuhan, atau kejutan paling sialan yang pernah diberikan Tuhan?
Seandainya kamu tahu bahwa hal paling menyedihkan diantara satu episode cerita kita yang tayang terlalu singkat adalah melihat kamu yang tidak pernah benar-benar sedang melihat aku, memperhatikan kamu yang tidak pernah benar-benar memperhatikan aku dan kenyataan bahwa yang kamu pedulikan memang cuma hidupmu saja. Tidak, saya sedang tidak memprotes prioritas kamu saat ini. Ini masalah ada di level mana tingkat kepedulian kamu.

Apa rasanya disayang dan dicintai? saya yakin beratusjuta manusia punya kesaksian masing-masing, tapi tidak dengan yang ini, tidak dengan kamu. saya punya banyak sekali kesempatan untuk mundur atau menyerah atau melakukan blunder. terlalu banyak bahkan. Perbedaan yang kita anggap menyatukan ternyata terlalu berbeda. Seperti ada pesan yang terenkripsi lebih ruwet daripada tulisan dokter. saya punya banyak alasan untuk pergi. kamu pun.

Maka bukankah sebaiknya kita saling berterima kasih atas kesediaan kita masing-masing untuk duduk saling berhadapan bahkan ketika dalam keadaan tidak saling menatap?