di Batas Mentari dan Hujan

4:23:00 PM 0 Comments A+ a-


Selamat siang, kau yang berdiri di batas mentari dan hujan
Bagaimana rasanya kawan, sepanjang hari berdiri terus-terusan tanpa kepastian?  Ah, kurasa aku punya gagasan. Cobalah untuk sesekali bersantai di awan. Duduk manis di sana, minum secangkir kopi sembari melihat pemandangan. Mungkin bisa mengobati letih mu ketika yang kau inginkan belum kesampaian.  

Dengar, Tuhan tak seburuk itu. Tak perlu terburu-buru. Dia tau apa yang terbaik untukmu. Tak usah sebegitunya kau menanam cemburu. Lihatlah pada saatnya nanti, akan datang momen ketika kau tersenyum simpul memeluk apa yang kau impikan, melambai dengan tenang, bersyukur kau tak mendapatkan apa yang kau inginkan dahulu. Lalu kau akan bersujud tersungkur menyesali sumpah serapahmu. Percayalah, Tuhan sayang padamu. Kau pasti mengerti kan apa maksudku?

Sekarang angkat dagumu dan sunggingkan seutas tawa. Kemudian pergilah berenang ke batas senja. Dan kau lihat akan ada lautan tempat  dimana matahari menolak diselamatkan dari tenggelamnya. Sebab jika ia tak tenggelam, berakhirlah seluruh dunia dan seisinya.  Seperti itulah Tuhan mengatur segalanya. Harus ada yang tenggelam agar semua berjalan seperti semestinya. Jadi bersabarlah sebentar saja. Maka semua akan indah pada waktunya.

Jadi, berhentilah berdiri di batas mentari dan hujan. Selamatkan segala perasaan. Kau lebih dari sekedar layak untuk bisa bersandar di lekukan bulan.

Salam penuh kasih sayang,