7 yang ke-21

3:19:00 PM


Untuk yang tersayang, @adricabe

Selamat tanggal 7 yang ke-21! Gimana rasanya pacaran sama bidadari selama 21 bulan? 

Aneh rasanya kita bisa bertahan sampai hari ini. Mengingat kita lebih rajin berantem daripada kencan romantis. Mengingat momen pertama kita ketemu—yang nggak pernah kamu ingat—yang membuktikan bahwa memang pertemuan pertama itu nggak berkesan. Sama sekali. Aku kebetulan ingat karena memang aku pengingat yang baik. Bukan karena kejadiannya berkesan. Aku ingat betul saat itu kamu berdiri di parkiran belakang, pakai jaket merah, kaos hijau dan rambut kribo mu mungkin nggak disisir dan mengembang seperti ada dedaunan rimbun di atas tubuhmu yang cungkring. Kamu seperti bonsai pohon beringin gagal yang kurang asupan sehingga batangnya menciut. Hehe

Kita berkenalan tanpa melalui proses jabat tangan. Karena orang-orang sekitar manggil kamu ‘cabe’ jadilah aku manggil kamu ‘mas cabe’. Walaupun ya tadi, kamu lebih mirip bonsai beringin kurang asupan daripada pohon cabe. hehe

Kemudian, berkat seorang teman yang tiba-tiba secara kampret me-mention account twitterku dalam conversationnya sama kamu, akhirnya kita saling follow. Dan aku masih nggak tau namamu siapa. Sampai ada notifikasi friend request di facebook dari seseorang bernama Adri Prasetyo. Dan setelah bertanya sana-sini akhirnya aku tau ternyata Mas Cabe dan Adri Prasetyo adalah orang yang sama  :)

Tuhan mengirim kamu, justru di saat aku mulai mengambil kesimpulan bahwa aku hanya bagian kecil dari tumpukan file-file berdebu di atas lemari yang berada di dalam ruangan yang langit-langitnya penuh sarang laba-laba. Justru ketika aku mulai berpikir mungkin Tuhan sudah memalingkan mukanya dari mahluk kecilnya ini.

Sebutlah kamu adalah kejutan paling sialan yang diberikan-Nya sejauh ini. sebagian dari entah berapa milyar tangkai bunga yang berdiri tegak yang menegaskan betapa kerdilnya perasaan kita dapat dipermainkan tanganNya . Semua terjadi begitu saja. Dari mulai curhat-curhat bersama jam 2 pagi yang busuk nan ajaib, hingga lunch-dinner gerilya di tengah perang saudara Libya. Dari mulai kepalaku yang jatuh di pundakmu di kereta api, hingga setangkai mawar yang kuntum mawarnya hilang diterpa hujan badai di perjalanan kita yang basah kuyup....demi nonton pentas seni di kampus!

Aku jadi ingin meralat pernyataan sebelumnya. bahwa kamu ternyata bukan hanya sekedar kejutan paling sialan. Tapi kamu adalah kombo Avada Kedavra-Expecto Patronum yang diberikan dalam bentuk smash Liem Swie King di masa jayanya. Kamu adalah khat yang diolah menjadi derivat dari cathinone yang sanggup mengontrol syaraf pusat dengan meningkatkan pengeluaran katekolamin sehingga pecandunya tak pernah lelah. Kamu adalah bencana kekeringan yang kita berdua tak kan sanggup mengatasinya kecuali berdoa agar hujan lekas turun. Kamu adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana bahagia yang sederhana bisa tercipta.

Sesederhana itu pula kita mampu bertahan sampai hari ini. 


Love,

You Might Also Like

0 comments