Mencekoki Pikiran

7:14:00 PM 0 Comments A+ a-

Sudah lama banget rasanya sejak terakhir baca buku. Saya pecinta fiksi dan betah banget duduk berjam - jam ditemenin buku doang, dulu. Sampe pernah berantem hebat drama sama mantan (yang dulunya pacar) karena lebih milih baca novel seharian daripada nemenin dia nonton NBL. Buset masih inget aja fik! Kalo mantan yang ini baca, please jangan GR. ini bukan dalam rangka mengenang lo. By the way, "GR" itu kosa kata jaman kapaaaan ya. Sekarang istilahnya sih "baper", you named it.

Jaman sekolah, bacaan saya ya semacam series nya Harry Potter dan buku-buku impor cool lainnya (termasuk Twilight saga. iya ini cool pokoknya), saya juga baca novel Indonesia cinta-cintaan  ala anak-anak remaja gitulah, penulis favoritnya dulu Esti Kinasih, Andrea Hirata, Dee lestari sama Adhitya Mulya. Oh, baca novel yang ceritanya islami-islami juga macem Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, termasuk novelnya Asma Nadia. Kalo yang islami ini sih tentu saja karena disodorkan mami. Haha, but still, I read all of them with love, tanpa terpaksa.

Intensitas baca saya mulai berkurang semenjak kuliah. Karena tiap mau baca, rasanya kayak bersalah gitu. Sempet baca novel nggak berguna, masa nggak sempet baca text book? atau belajar ngerjain soal gitu? IPK saya jelek soalnya.
Ya walaupun pada akhirnya, setiap saya memutuskan nggak baca novel, saya juga nggak belajar. Akhirnya banyak numpuk beli novel, tapi sampai sekarang banyak juga yang belom dibaca. karena merasa bersalah kalau baca.

Kerja. Makin nggak baca buku. Tapi kalau ditanya orang "hobinya apa?"
Dijawabnya: "Baca"

baca artikel di internet maksudnya. Yah lumayan lah ya. (ya daripada jawab "bikin caption foto instagram")

Sampai saya tiba di satu titik saya jenuh banget, nggak bisa melampiaskan hobi. piano ada di cirebon, baca novel nggak berguna buat hidup, merasa bersalah, pacar jauh (curhat aja terus fik)

Bos saya pernah bilang, kalau manusia mau berkembang, dia harus baca buku, minimal 1 halaman setiap bangun tidur. "Kamu baca tuh buku-buku manajemen, atau agama, atau marketing, atau parenting atau sesuatu yang bisa menambah value di diri kamu"

Tapi kok males.

"Kamu nih keseringan ngomong males deh fik. coba ya, kalo kamu jarang ngomong males, mungkin IPK mu udah 3,9. kurangin ah! sugesti buruk" kata bos saya lagi.

Rasanya hidup yang menjenuhkan ini lebih butuh hiburan dibanding ilmu. Pikir saya. Pikiran yang malas.

Akhirnya saya ke toko buku, dan belom tau mau beli apa. Eh ada novel Ika Natassa yang judulnya Antologi Rasa. Disclaimer, saya nggak akan mereview bukunya karena pasti sudah banyak yang nulis. googling ajah.

 

Saya follow twitter Ika Natassa karena tau tulisannya banyak best seller, dan orang pada tergila-gila sama tokoh fiksi ciptaan Ika, tapi belom pernah baca satu pun bukunya. Gatel deh pengen beli. Beli deh... langsung tamat dalam 2x duduk. itu juga karena pas ke luar kota ketinggalan di kos, nggak kebawa.

That feeling.... hanyut dalam cerita, ikut gemes, gregetan, kesel, senang, sedih, galau mendayu-dayu akhirnya kerasa lagi. Rasanya seperti menemukan separuh diri yang hilang. Tapiii rasa bersalah itu kembali muncul. sebenernya selain hiburan, ya nggak ada manfaatnya. Bukan karena novelnya jelek,, novelnya baguuus sekali karena bikin kita hanyut, really worth every peny taht you spend. Dan saya tergoda, sangat tergoda untuk baca tulisan Ika lainnya.

Akhirnya, untuk mengobati rasa bersalah setelah baca novel seru (tapi kurang berguna untuk menambah value dalam diri), saya ambil buku dari rak buku Papa. Judulnya Rich Dad Poor Dad, Robert T. Kiyosaki. Buku tentang intelegensi financial.


Ini buku bagus kata Papa. Buku lama, belinya sejak saya belom lahir. Dari SMP, saya disuruh baca ini sama papa, tapi saya nggak ngerti karena kosa katanya masih berat untuk anak SMP, seperti cash flow, liability, dan istilah ekonomi lainnya.

Setelah saya baca sendiri, waaaaak!!! SERU BANGET. tiap lembarnya bikin penasaran, dan ikut hanyut ke dalam pikiran si penulis. dan ini isinya bagus banget. Orang-orang kelas menengah ngehe, apa lagi yang baru pegang duit macem saya, wajib banget baca ini biar nggak salah langkah. Buku ini banyak mengajarkan, tanpa kita merasa digurui. Banyak orang nggak sadar akan pentingnya intelegensi financial, makanya orang kaya nggak sebanyak orang miskin dan menengah. 

Saya punya soft copy nya, tapi bahasa inggris. kalau ada yang mau, boleh comment dan tinggalin emailnya.

Setelah baca buku yang satu ini, saya jadi sangat tertarik buat baca buku berguna lainnya. Tapi tetaplah manusia butuh hiburan........
Akhirnya jalan tengahnya begini, saya menerapkan aturan main buat diri saya sendiri.Setiap baca 1 buku nggak berguna, harus baca 1 buku berguna. HARUS. kalau belom baca buku berguna, nggak boleh baca buku nggak berguna lainnya. berguna di sini artinya yang menambah value pada diri ya. Nah dengan kayak gini, saya jadi nggak merasa bersalah lagi. 

Setelah Antologi Rasa, saya berniat beli novel nggak berguna lagi. Pilihan saya jatuh ke Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya.
Ternyata di luar ekspektasi, bukunya bagus bangeeet. Ini seperti nasehat pernikahan dan membesarkan anak dikemas dalam novel yang baguuus dan mengharukan. salah satu novel yang bikin penasaran gimana endingnya sekaligus menimbulkan nggak-rela-kalau-ini-berakhir-saya-harus-baca-apa-feeling.
Semua orang yang bercita-cita menikah dan punya anak harus baca buku ini,

Nah karena buku ini menurut saya masuk ke kategori berguna, jadi nggak merasa bersalah deh.
HAHA. win.

Begitulah cara saya mencekoki pikiran. Akhirnya saya sadar, benar sekali kata bu bos. Kalau nggak baca, kita nggak akan berkembang. Mari mencekoki pikiran, paksa ajah. nanti juga doyan kalau tau manfaatnya. Lucky me, Papa punya banyak sekali buku berguna di rak nya. tiap pulang ke rumah, selalu bawa minimal 2. (karena pulangnya sebulan sekali)

Kapan-kapan saya update lagi deh udah baca buku apa aja. Selamat mencekoki pikiran.