Somethings are Better Left Unsaid

12:04:00 AM

Kembali curhat di blog karena sekarang serem banget kalau ngomong di media sosial banyak yang ngerasa kesenggol dan ngegas, mungkin juga karena spacenya terbatas, jadi suka salah persepsi maksudnya pengen nyampein apa, ditangkepnya apa. Twitter dan instagram sama aja. You kinda just talk to yourself and sometimes someone is offended, no fun. *rolling eyes* Salah sedikit diserang habis-habisan, apalagi kita bukan ahli dan bukan siapa-siapa. Membaca debat komentar di aku-akun yang ribut aja aku merasa drained, sekaligus takut kalau suatu hari ada yang berlaku seperti itu ke aku. What a cruel world we live in. Orang bisa fanatik banget sama idolanya sampai segitunya. padahal yang mereka idolakan itu juga manusia, bukan tuhan, bisa salah juga. Apa semua orang ini gone insane gara-gara pandemi???

Banyak dikasih pelajaran agar aku nggak perlu "sok" sharing ingin bantu orang menemukan jawaban atas permasalahannya karena belum tentu orangnya mau dikasih tahu. Kadang orang cuma mendengar apa yang mau dia dengar, atau mendengar untuk mendebat :)) Atau ya ngerasa offended dan nggak suka baca sharingan yg bikin insecure aja.

Misalnya sharing tentang "Normal nggak sih kalau pasca melahirkan uring-uringan dan rambut rontok terus-terusan?" 
Mungkin jawaban yg bikin tenang dan tidak insecure adalah "iya normal kok, nggak apa-Apa, nanti juga lewat masanya." Padahal ada jawaban yang (jujur aku lebih suka--andai saja dulu ada yang jawab kayak gini) "Normal karena wanita pasca melahirkan biasanya kekurangan nutrisi karena disedot bayinya, bisa kekurangan vitamin D, zinc, iron bla.bla..bla, tapi ada kok solusinya. kamu makannya gimana? sembarangan nggak? makan sayur cukup nggak? kena sinar matahari nggak? kurang gerak nggak?" nah sharing hal hal yang kayak gini belum tentu orang lain bisa terima dengan berbesar hati. bisa dipandang sotoy, ngejudge, sok kepinteran, tong kosong nyaring bunyinya, arogan :)) tapi giliran idolanya yang berkelakuan arogan dibilang "savage!! you go girlll!!" double standard :)

Belum lagi kalau masalahnya sensitif seperti pembahasan ASI/sufor, melahirkan pervaginam/SC, pilihan metode parenting, wah lagi cerita doang aja tuh bisa dianggap nyerang beberapa pihak.
Padahal mungkin maksud kita baik, mau ngasih tau resiko dan pengalaman, tapi belum tentu orang bisa nerima, dan itu semua nggak bisa kita kontrol kan. 

Kalau aku sih senang kalau ada yang berbagi soal misalnya resiko pemberian dot sebagai media pemberian ASIP, aku bahas satu saja: bingung puting.
Bingung puting ini artinya si bayi udah nggak mau dan nggak bisa lagi nenen direct breastfeeding (DBF) karena sudah nyaman sama dot. Imbasnya, ibu harus exclussive pumping, ribet kalau pergi kemana-mana harus bawa peralatan pumping, cooler bag, dot, padahal anak dan "kendi" susunya nggak lagi jauh-jauhan, udah gitu belum tentu hasil pumpingnya terkejar sama kebutuhan bayinya, capek pula, akhirnya harus nambah susu formula--ini nanti nambah lagi resiko akibat pemberian susu formula. Bayi juga nggak dapet sel anti kanker kalau nggak DBF (cmiiw), belum lagi sel ASI itu "hidup" dan isinya menyesuaikan kebutuhan yang terbaca dari air liur bayi yang nempel di puting ibu. Kalau bayi lagi sakit, air liurnya akan kasih sinyal ke puting ibu untuk memproduksi ASI yang tinggi antibodi misalnya.
Siap nggak kita kehilangan itu semua kalau anaknya bingung puting?
"Tapi anak aku nggak bingung puting tuh, bisa-bisa aja bergantian dot dan DBF" ya namanya juga RESIKO. Kalau bisa nggak kena ya good for you, tapi ingat, kalau orang lain bisa, kamu belum tentu, anak orang lain bisa terhindar dari resikonya, anak kamu belum tentu. Kalau bisa ya bagus, tapi kalau tidak, apakah sudah siap sama resikonya? 

Kata mas Adjie Santoso memilih itu bukan soal benar atau salah, tapi soal seberapa siap kita menerima apa pun akibatnya.

Tentu pakai dot banyak untungnya juga. Resiko nggak pakai dot ya nenen harus standby. Semua tetap ada resikonya. You decide.

Sebaiknya memang kita tau resiko atas pilihan yang mau kita buat, supaya siap dan nggak nyesel karena ya sudah dikasih tau di awal, nggak kayak beli kucing dalam karung. Makanya aku sih senang sama orang-orang yang sharing soal ini di media sosial, karena merasa dapat info berharga. Anak aku dulu sempat hampir bingung puting, alhamdulillah bisa diselamatkan lagi sebelum terlambat, dan aku bersyukur pernah baca info itu dari orang yang sharing di media sosial. Aku Padahal ingin orang lain juga merasakan hal yang sama, tau resikonya sebelum memutuskan pilihan.

Tapi kan ada aja orang yang malah merasa diserang dan dihakimi seolah-olah penjabaran resiko tadi nge-judge dia sebagai ibu yang gimanaaaa gitu. Terus dianggap seolah yg sharing ini merasa paling benar, yang lain salah!!! Padahal orang yang sharing tadi niatnya baik, ingin berbagi ke orang-orang kayak aku, bukan mau nyenggol siapa-siapa, akhirnya jadi berantem deh. walah ribet :)) Padahal pilihan tuh ya bebas aja tergantung kebutuhan dan prioritas, bukan?

Ketika aku di posisi orang yang sharing, rasanya emotionally drained banget sih kalau ada yang kesenggol. I think I'm not ready :)) dengan berbagai respons di sana kayak cari musuh :)), beda sama di blog, mungkin karena pembacanya ya lebih inklusif membaca apa yang mereka ingin baca, kalau di media sosial kan muncul di timeline walaupun kita lagi nggak ingin baca wkwk. Jadi sekarang lagi benar-benar berusaha buat nggak sharing macem-macem yang kayaknya "sok pinter" di media sosial dan berusaha nggak terjerumus ke perdebatan walaupun gatel banget ingin komentar, walaupun di akun sendiri. Tidak siap menanggung resikonya :)) karena menurutku nggak semua orang suka dan siap. Somethings are better left unsaid.



Semoga dengan ini aku bisa lebih rajin ngeblog dan sharing di sini aja wkwk

You Might Also Like

0 comments