Mencocokkan Diri

12:52:00 PM

Saya sempat berdebat sama teman pria yang berusia 2 tahun di bawah saya, tentang (lagi-lagi) jodoh. Dia ini angkatan 2010 korban akselerasi, masih kuliah dan lagi magang di divisi saya, sebutlah namanya M.

M ini belum punya pacar, dan belum kepikiran nikah (Ya, maklum, cowok masih umur 21 pula), Ketika makan siang, kita ngobrol banyak hal, sampai akhirnya saya cerita tentang kekhawatiran teman-teman perempuan yang sudah kerja terkait masalah jodohnya. Sebagai engineer, mereka otomatis berada di lingkungan yang dikelilingi dengan banyak pria. Ternyata juga nggak lantas memudahkan buat dapet pasangan. Selain karena nggak ada saling ketertarikan, juga karena pria-pria itu tidak available. alias udah punya calon. Ada juga yang ganteng, baik, kalem, tidak punya pacar, tapi juga tidak bersyahadat. Teman-teman perempuan saya ini muslimah berjilbab semua, jadi ya…. gitu deh.

M lalu bilang. “Ya sudah, nanti aku pas kerja akan jadi pria muslim yang belum punya calon, jadi nanti wanita-wanita sejenis teman kamu itu, bisa ketemu jodoh yang macem aku. hahaha”

“Lho kan kalian belum tentu cocok satu sama lain” saya menyangkal.

Please lah fik, tinggal mencocokkan diri.”

“Nggak semua hal bisa dicocokin, nyong” dan terus kita debat kusir.




Sulit sekali menjelaskan ini. Orang lebih bisa nerima alasan saya putus sama mantan yang dulu karena mantan saya brengsek, dari pada ketika saya bilang kami tidak cocok. karena mereka akan bilang

“Masa setelah 2 tahun baru sadar nggak cocok? kenapa nggak dari awal aja?”

Ya karena hal yang kami kira bisa dikompromikan, ternyata nggak bisa.

Manager HRD di kantor, sebut saja ibu T–yang juga seorang psikolog, pernah menasehati dengan analogi begini,

“Menikah itu, seperti ingin pergi ke satu tujuan bersama pasangan kita. Misal kita mau pergi dari Bandung ke Yogyakarta, tentu kita mencari partner yang juga ingin ke Yogyakarta, dengan kendaraan yang sama. Kalau pun nantinya harus berhenti di rest area untuk makan, dan saya ingin makan nasi goreng sementara partner saya ingin makan nasi padang, itu nggak masalah. karena di rest area ada banyak menu dari berbagai restaurant, bisa dikompromikan.
Yang penting itu, kendaraannya harus sama. Nggak bisa kalau saya ingin naik mobil, tapi partner saya ingin naik pesawat”

Kendaraannya harus sama,

Kendaraan di sini, menganalogikan hal-hal besar, termasuk cara memandang hidup, agama, visi, atau nilai lain yang dianggap penting dari masing-masing individu. Kalau itu udah nggak sama, maka akan susah ke depannya.

Cara gampang ngetesnya (Ini juga kata Bu T), coba masing-masing kita dan pasangan menuliskan 5 nilai (atau sebanyak mungkin) yang dianggap penting dalam hidup. bisa uang, agama, keluarga, karir, kerapihan, keteraturan, sedekah, anak-anak dan lain-lain, bisa apa saja.

Lalu diskusikan. Nilai-nilai yang berbeda, apakah bisa dikompromikan? apakah bisa diterima oleh masing-masing pihak? Kalau nggak bisa, secinta apa pun. jangan menikah. Nanti capek.

Karena pernikahan tidak akan mengubah seseorang, ya kecuali kita siap dengan perbedaan tadi.

Ada orang yang punya kebiasaan malas menutup laci, menikah dengan orang yang rapi banget dan bisa gila tiap melihat laci nggak ditutup, itu hidupnya pasti menderita, bisa cerai hanya karena laci nggak ditutup. Jadi kadang walau sepele, tapi kita nggak bisa terima, dan pasangan nggak mau berubah, ya bisa jadi masalah besar dalam pernikahan.

Itu juga kata Bu T.

Cara lainnya,

coba tanyakan ke pasangan, kalau mendadak punya uang $1,000 mau dipakai buat apa?

ini juga mencerminkan nilai yang dia anut. bukan berarti yang bilang mau pakai buat jalan-jalan atau investasi atau disumbangkan itu lebih baik, tapi ya tadi, nilai yang dianut berbeda.

Karena manusia kan maunya hidup bahagia. Nah definisi bahagia itu seperti apa?

Kata Bu T lagi,
Bahagia adalah ketika seseorang bisa menjalankan hidupnya sesuai dengan nilai-nilai yang dia anggap penting.
Ada yang bahagia ketika punya barang mewah, ada yang bahagia kalau rumahnya dikelilingi kucing, ada yang bahagia ngurus anak di rumah, ada yang bahagia ketika karirnya melejit, ada yang bahagia kalau dia selalu jujur, macem-macem! You choose your own hapiness

Makanya, akan lebih mudah menjalani hidup sampai kakek nenek, kalau nilai yang dianut itu sama. Tapi sepanjang masing-masing pihak mau berkompromi dan menerima perbedaan nilai tadi, ya nggak apa-apa.

Bu T bilang,
“Saya selalu tanya ke setiap laki-laki yang melamar, kenapa melamar saya? rata-rata akan menjawab

‘karena bersama kamu saya bisa begini begitu bla bla’,
atau

‘karena kamu cantik, baik, bla bla bla’

tapi suami saya, waktu itu menjawab

‘saya cuma mau pulang bareng kamu’ 
sudah. tanpa pikir panjang, langsung saya ‘oke’ kan. Saya langsung paham, bahwa dia ingin pulang dengan kendaraan yang sama dengan saya. itu cukup buat saya.
Waktu itu dia masih nganggur dan belum berpenghasilan, tapi karena menikah dengan saya, akhirnya bisa menjadi driving force dia untuk kerja dan menafkahi hidup kami.
Selama dia membawa kita ke arah yang lebih baik, bertanggung jawab, dan kita bisa yakin terhadap pilihan-pilihan yang dia ambil nantinya, bisa menerima kita in worst condition, Go! menikahlah. yang memelihara kita itu Tuhan, bukan uang, bukan manusia lainnya”

beliau cerita sambil berbinar-binar. saya hampir nangis haru dengernya.

Anyway, bukan kapasitas saya menasehati hal-hal seperti ini, tapi rasanya sayang kalau ilmu tidak dibagi. Belum tentu juga yang saya sampaikan ini benar, tapi lumayan untuk bahan pertimbangan, dan reminder untuk diri sendiri.

Jadi, sudah cocok kah partner hidup yang kita pilih?

You Might Also Like

0 comments