Cerita Promil 6 - The Result

1:43:00 PM

Rangkuman dari hampir tiga bulan kami menjalani program hamil: sudah ketahuan masalah utama yang ada, yaitu Teratozoospermia dan PCO, ditambah rahim saya yang retrofleksi. Itu baru yang ketahuan, nggak tau deh masih ada lagi apa enggak. Dan saya nggak tau juga ya keaadaan ini tuh insidentil (karena kecapekan atau gimana) atau selamanya memang bakal begini?

Dalam kasus kami, ini semua masih dipersulit dengan keadaan yang memaksa untuk LDM dan karakteristik pekerjaan kedua belah pihak yang mengharuskan sering lembur dan simatupang (siang malam tunggu panggilan alias on call 24/7), sering business trip terbang ke sana kemari, makan sembrono, jarang olahraga, juga sering terpapar asap rokok dari sekitar yang memang nggak mungkin dihindari. Capek ya udah pasti. Nggak sehat? ya tentu saja. Lengkap kan faktor penghambat buat hamilnya? :))

(Baca cerita lengkapnya di Cerita Promil 3 - Teratozoospermia dan Cerita Promil 4 - PCO).

Makin diperiksain ke dokter memang makin ketahuan masalahnya apa, mungkin ini yang menjadi salah satu ketakutan orang-orang yang lagi program hamil. Tentang siap nggak kalau kita tahu kita punya keterbatasan dan butuh usaha lebih buat punya anak? Itu pun nggak ada garansi usahanya bakal berhasil dan uang yang sudah dibayarkan nggak akan bisa balik. Tapi dengan ketahuan masalahnya dimana, treatment-nya bisa lebih difokuskan. Buat saya, ini jauh lebih melegakan dibanding kasus unexplained infertility.

Tapi ya sudah nggak apa-apa. Mari kita legowo menerima bahwa ada memang orang yang gampang aja hamil without even trying, ada juga yang harus usaha lebih. Sama lah kayak teman-teman kita yang suka tidur di kelas tapi tiap ujian selalu dapet A, sementara kita mati-matian belajar tetep dapet D.

Dari berbagai sumber bilang, 1 dari 8 pasangan memiliki masalah infertilitas, 33% masalah disebabkan oleh pihak laki-laki, 33% dari pihak perempuan, 19% dari keduanya, 15% nya unexplained.  Memang data statistiknya begitu. Kita ini kan hidup juga fungsinya sebagai pengisi data statistik aja :))

Setelah mengetahui ini semua, saya mempersiapkan mental, kalau-kalau memang harus IVF atau bahkan hidup tanpa anak gimana? tapi Hanif bilang kita harus percaya sama kuasa Allah, harus makin kenceng berdoanya, harus makin yakin bahwa nggak ada lagi yang bisa bantu selain Allah SWT. I feel so lucky to have such a loving and understanding partner in this whole thing. He makes our "wait" just a little easier. Knowing what I know now, I would marry him again in a heartbeat. Baby or not.


Saya akhirnya nyari tahu lagi gimana caranya biar doa lebih cepat dikabulkan. Saya berdoa di waktu-waktu yang katanya mustajab, saya doain teman-teman saya yang lagi berusaha hamil juga agar diberi kemudahan, yang lagi hamil juga saya doain semoga selalu sehat dan dilancarkan. Ada hadist yang bilang bahwa dengan ikhlas mendoakan orang lain, manfaatnya akan balik lagi ke kita. Saya sampai bikin tulisan, semacam surat untuk Tuhan, karena konon Allah senang dirayu. Saya susun kata-kata sebagus mungkin, masukin segala macam asmaul husna yang nyambung. Setiap habis sholat, atau setiap ada kesempatan, saya baca itu. Tidak lupa berdoa semoga Hanif dapet pekerjaan baru yang gajinya lebih oke, sehingga saya bisa resign dengan lebih tenang dan bisa ikut kemana pun Hanif pergi biar kami bisa lebih maksimal promilnya. Pun kalau memang harus IVF, semoga uang dan kesempatannya ada.

Bisa dibilang kami memang pesimis, kurang ambisius dan pasrah tapi tetap terus berdoa. Kami juga waktu itu mulai makan sehat dan lebih rutin olahraga, awalnya karena Hanif mau mempersiapkan diri buat Medical Check Up test di calon kantor barunya, tapi ya sekalian deh biar promilnya makin ada harapan.

***
Di bulan November, bulan ulang tahun Hanif dan bulan anniversary kami, Hanif akhirnya resmi dapat pekerjaan baru dan harus dikarantina 6 bulan untuk training dan OJT (on job training) mulai bulan depan. Pekerjaan Hanif ini punya resiko harus tinggal di pelosok luar jawa, tapi salary dan jenjang karirnya nya cukup menjanjikan, jadi saya bisa agak tenang kalau pun harus resign dan ikut dia biar bisa tinggal satu atap agar promilnya makin maksimal, dan tentu saja karena capek LDM, sis!

Kami anggap ini kado terindah buat Anniversary kami: Lulus LDM. Satu yang kami nggak tahu, ada lagi kado yang lebih indah dari Allah: Ternyata waktu itu adek bayi udah ada di rahim saya walau wujudnya mungkin masih sebesar poppy seeds :")

Kami tuh pesimisnya sampai level merencanakan mau datang di hari ketiga menstruasi seperti arahan dr Edwin, sekalian bilang mau udahan promilnya karena Hanif mau dikarantina. Terus mau tes sperma lagi buat lihat apakah suplemennya kemarin ngaruh, karena kebetulan sudah habis.

Tapi ternyata mens tidak kunjung datang. Hanif bahkan pesimisnya sampai level nggak mau beliin testpack pas tau saya telat mens 2 hari. Alesannya "Malu. Nanti dikira bocah SMA hamilin anak orang" zzz

Saya udah curiga karena rasanya kayak mau mens tapi kok lebih sakit, payudara nyeri luar biasa, dan saya terlalu gampang capek. Jalan di mall sebentar sudah capek. Saya sempat puasa karena pernah nazar kalau Hanif keterima di pekerjaan baru ini, bakal puasa. terus akhirnya lemes setengah mati.

Besoknya saya beli testpack yang bagusan (biasanya beli yg 3ribuan, sekarang yang 10ribu deh). Saya tes sendiri karena Hanif udah pulang ke Jakarta daaan.....


garisnya dua :") Garisnya dua :'')
Even dr Edwin sempat nggak percaya kok bisa secepat itu :))

***

Perjuangan kami memang nggak seberapa dibandingkan sama yang lain, cuma 3 bulan program walau kosongnya hampir setahun. Kayaknya singkat tapi pas dijalani, jujur capek, fisik dan mental.
Apalagi teman-teman yang sudah lebih lama dan lebih kompleks masalahnya.

Jadi nggak usah lah ya, kita komentar basa-basi soal "kok ngga hamil-hamil?" / "Ngapain program segala? mahal! udah tungguin aja" / "Ngapain minum obat ? itu kan bahan kimia, mending minum habattus sauda, madu, akupuntur, pijet, endebray endebrey" / "katanya mau cepet hamil? kok makan indomie?" / "Ngapain sih minum jus? badan udah kayak tengkorak aja sok diet"

IYA BENER ADA LHO YANG KOMEN BEGINI KE SAYA :)

Iya ngerti, ngerti banget kok habattus sauda itu obat dari segala macem penyakit, atau jalur alternatif lainnnya mungkin bisa mendukung biar cepet hamil. Tapi, ya namanya juga usaha. Suka-suka yang usaha lah. Silahkan anda-anda aja yang jalanin kalau menurut anda itu lebih mujarab. Nggak usah lah menghakimi pilihan orang lain. Toh yang saya lakuin juga berdasarkan arahan ahlinya, yang udah sekolah bertahun-tahun. HHHH.

Sekarang sih udah enteng ya, dimaafin ajalah. Dulu kalau yang komentar ini "beruntung" pasti langsung saya semprot. sorry not sorry. sempet emosi banget saya, kok kayaknya kalau nggak hamil tuh dosa banget gitu. Pada nggak bisa gitu biasa aja liat orang nggak hamil-hamil? Emang kalau nggak hamil bisa mengurangi nilai kita sebagai manusia gitu? Kan enggak. kesel :))  Cuma yaudah, kita kan nggak bisa kontrol apa yang mau keluar dari mulut orang lain ya, tapi kita bisa kontrol gimana cara kita nerimanya. Tapi kalau lagi sensi ya, luapin aja lah nggak apa-apa. Kita kan manusia biasa juga yang bisa sedih dan kesel! Enak aja kita capek-capek jaga perasaan orang lain, padahal orang komentar seenaknya :))

Mungkin yang saya share di sini nggak seberapa, tapi semoga bermanfaat dan bisa memberi semangat. Buat seluruh pejuang promil di luar sana, stay positive, keep fighting and have faith. Ingat bahwa kuasa Allah lebih besar dari takdir-Nya. Never give up, never lose hope. Cause anything worth having is definitely worth waiting :)

(Kalau mau baca cerita dari awal promil bisa dibaca di Cerita Promil 1 - Memilih Obgyn dan Androlog)

You Might Also Like

0 comments