Angsul-angsul, Hadiah untuk Mas nya

Beberapa teman laki-laki saya pernah berkomentar, "Kok enak sih perempuan bisa dapet seserahan ?"

Masnya juga bisa kok dapat hadiah balasan seserahan, berupa angsul-angsul, tapi ini sifatnya memang opsional, kayaknya jauh lebih opsional dari pada seserahan-nya sendiri (cmiiw). Karena saya jarang sih melihat saudara atau teman dekat saya yang ngasih angsul-angsul, kebanyakan seserahan doang yang dilakukan. Haha. Saya sendiri masih belum tau sih bakal ngasih angsul-angsul atau nggak.

pic via hantaran deco by daiyu


Kalau hasil googling dan cerita segelintir teman yang ngasih, Angsul-angsul ini sama aja kayak seserahan, tapi nilai dan jumlahnya nggak boleh lebih tinggi dari seserahan yang diberikan ke mbak nya. Dari yang pernah saya lihat sih paling 1 - 3 kotak. Lumayan mas wkwk.

Pilihan barang yang bisa diberikan untuk Angsul-Angsul antara lain :

1. Set Perlengkapan Kerja/Formal
Ini tergantung pekerjaan masnya ya. Paling umum sih kemeja dan celana bahan.

2. Sepatu
Sepatu ini bisa sepatu olahraga, casual, maupun formal

3. Jam Tangan
Kalau malas dan nggak ada waktu ke mall untuk lihat-lihat dan ngepasin ukuran, beli aja jam tangan online. Tinggal duduk, pilih dan klik, selesai deh. Kamu bisa menemukan beraneka ragam koleksi jam tangan pria di ZALORA Indonesia yang stylish dan sesuai dengan personal style mas nya.


Nah, selamat berbelanja :)

Frequently Asked Question: Mempersiapkan Pernikahan

Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, sekarang lagi sibuk-sibuk nyiapin perintilan nikahan >_< ya ampun gemes-gemes  sendiri tapi saya sih berusaha kalem dulu aja, dan menolak jadi Bridezilla wkwk. Sudah 4 bulan persiapan, sudah setengah jalan! Sudah bisa lumayan (sok-sok-an) berbagi cerita. Iseng-iseng berbagi beberapa pertanyaan yang sering menghampiri dari teman-teman yang juga sedang berencana menuju ke arah sana, maupun yang sekedar ingin tahu, dirangkum aja dalam FAQ berikut, semoga bermanfaat :)).

Disclaimer: ini menjawab BUKAN berdasarkan hukum agama, negara maupun adat ya, tapi dari pengalaman, cerita orang dan sotoy-sotoy aja sih. Semoga tidak ada yang merasa disesatkan. 


pic from jamiedelaineblog.com



1. Kapan Waktu yang Tepat untuk Lamaran?
Kalau sudah ada calonnya :)
Oke, sori. Saya sih memandang lamaran ini tujuannya kan semacam tanda jadi mau menikah ya? Pada umumnya (atau keluarga saya), kalau belum ada "lamaran resmi" ya nggak mau booking gedung, katering, dsb. Lamaran jauh-jauh hari ini dibutuhkan untuk antri booking vendor-vendor maupun venue favorit, apalagi kalau di kota yang nggak terlalu gede, vendor favoritnya ya itu-itu aja. Kecuali kamu nggak masalah mau pakai vendor apa dan venue dimana aja, 3 bulan mungkin cukup. Kalau nggak pakai resepsi sih ya mungkin dua minggu juga cukup? wkwk.

Sebagai contoh, saya dan masnya kemarin, nentuin dulu kira-kira mau menikah kapan, lalu tarik mundur butuh persiapan berapa lama, ditambah waktu untuk meyakinkan orang tua kalau-kalau ditolak (Penting!), nah dapetlah tanggal lamaran resmi. Berapa lama persiapan ya tergantung kesanggupan kamu mikirin printilan resepsi, kalau saya ambil amannya minimal 8 bulan, dan sebelum itu sudah survey tanya-tanya vendor ke orang-orang wkwk. Beda cerita kalau pihak keluarga mengharuskan pakai hitung-hitungan weton maupun hitungan lain untuk menentukan tanggal pernikahan :)). Oh iya, kata WO saya, sekarang daftar ke KUA paling cepat 3 bulan sebelum hari H, nggak bisa lagi jauh-jauh hari kayak yang dulu-dulu. Tapi saya masih belum tau juga sih ini aturannya sudah berlaku atau belum, karena belum dilakukan HAHA. *pijet kepala*

2. Berapa Biaya untuk Seserahan dan Mahar?
Tergantung. Mas nya harus berani tegas dan budgetkan aja, nggak apa-apa. Saran dari temanku, seserahan baiknya tidak "down-grade" dari apa yang biasa mbaknya pakai. Misal mbaknya biasa pakai sabun The Body Shop, ya jangan diturunin jadi sabun grosiran Lotte Mart. Lebih bagus kalau mas-nya bisa beliin versi "upgrade" nya, misal jadi merk Loccitane. Ini simbolis aja, seolah menyatakan ke orang tua mbaknya bahwa masnya bisa take care anaknya dengan baik from head to toe. Tapi nggak mutlak ya, kalau nggak mampu ya udah yang merk biasa-biasa aja. Disesuaikan dengan keinginan mbaknya dan kemampuan mas nya aja. Penyesuaian yang sulit memang wkwk. Tapi inget mbak, kalau suami kita jadi mendadak miskin gara-gara beliin seserahan doang, kita juga yang nantinya menderita. Toh setelah menikah, masih ada banyak waktu buat minta beliin apa yang kita mau ;) Masnya juga yang ikhlas, jangan sampai merasa terbebani.

Tips: lebih enak kalau belinya dicicil. Atau mbaknya beli sendiri lalu direimburse kemudian, jadi yang dibeli memang yang disuka dan akan dipakai. Banyak cerita teman yang beli make up segambreng untuk pantes-pantesan seserahan, yang ujung-ujungnya kadaluarsa duluan dan terpaksa dibuang karena memang nggak biasa pakai make up. Jadi ya beli secukupnya aja dan pastikan memang akan dipakai.

Begitu juga dengan Mahar. Ada yang bilang mahar sebaiknya sesuai permintaan calon istri, dan sebaik-baik wanita adalah yang maharnya tidak memberatkan. Tapi kalau ngasih mahar kecil jadi serasa nggak menghargai istri. Wah bingung kan.

gif by giphy

Sama!

Katanya di zaman nabi pernah ada yang maharnya hanya sandal jepit. Tapi inget ya mas, sandal jepit itu pun memang satu-satunya harta yang dia punya. Artinya dia memberikan satu-satunya harta yang dia punya saat itu--yang paling berharga, untuk calon istrinya. Konon Rasul memberikan mahar 20 ekor unta muda kepada Siti Khadijah saat mereka menikah. Ketika Ali menikahi Fatimah, maharnya berupa baju besi milik Ali karena cuma itu pula satu-satunya harta berharga yang dimiliki Ali. Ya jadi agak aneh juga kalau calon suami pekerja kelas menengah tapi maharnya seperangkat alat solat atau hafalan ayat quran. HEHE. Tapi ya balik lagi ke preferensi masing-masing sih.

Kalau saya sih nggak minta exact amount of mahar ya, tapi saya menyarankan dari alokasi dana mas nya untuk menikah, sebaiknya yang paling didahulukan adalah mahar.

Jadi sekali lagi, ini memang sebaiknya diobrolin sama pasangannya karena setiap perempuan dan keluarganya pasti beda-beda. Sepakati aja. Tapi harus diinget, kunci dari mahar adalah kerelaan ;)

3.Berapa Biaya Resepsi dan Siapa yang Membiayai?
Tergantung jumlah undangan dan kelas vendor yang akan dipakai jasanya. Tentukan dulu budgetnya berapa, baru bisa menentukan jumlah undangan. Siapa yang membiayai? kalau di Jawa (cmiiw) yang "punya hajat" adalah pihak keluarga mbaknya, jadi mereka yang membiayai. Saya pernah diceritakan resepsi ini tuh semacam syukuran dan pengkhidmatan terakhir orang tua untuk putrinya sebelum dilepas jadi istri orang. Tapi kalau pihak mas nya mau biayain ya nggak papa banget. Ini biasanya jadi ngaruh ke jumlah undangan. Kasarannya, yang mayoritas "nyumbang" yang berhak porsi undangan lebih banyak.


4. Berapa Ideal Dana "Patungan" Pria untuk Resepsi?
Nggak ada standar idealnya sih, kalau mau fair-fair an ya pakai cara di poin no. 2 tadi. Berapa besar yang disumbangkan, dipersenkan terhadap total biaya pernikahan = persentase undangan.
Sebagai contoh gampangnya gini,
Total biaya pernikahan yang harus dikeluarkan = 100.000.000, dengan 100 undangan. Jika pihak masnya menyumbang 15.000.000, artinya 15% dari total biaya. Maka, masnya berhak mengundang 15 orang (15% x 100 undangan). Kecuali ternyata pihak keluarga mbaknya masih ada sisa undangan, ya boleh untuk masnya. Ini di luar biaya mas kawin, seserahan, dan lain-lain yang memang kewajiban masnya ya. Begitu juga dengan biaya acara yang sifatnya tidak melibatkan kedua belah pihak, sebaiknya di-exclude kan dari total biaya pernikahan. Terdengar pelit dan itung-itungan memang, tapi ya mau gimana lagi, ini titik tengah paling fair kalau budget dan jumlah undangan terbatas wkwk. Kalau budget unlimited sih ya bebaaassslah mau gimana.

Tips: Biar lebih enak dan tidak terasa memberatkan cashflow di awal, dibagi aja misal pihak masnya bayarin WO, MC, undangan, dokumentasi. Pihak mbaknya bayarin apa. Jadi ngasihnya bukan dalam bentuk uang, dan mengeluarkannya bisa dicicil. beberapa vendor malah memperbolehkan capeng hanya bayar DP dulu, pembayaran selanjutnya bertahap dan lunas saat acara usai.
Ada jugas sih yang ngasih amplop atau kotak berisi uang pas lamaran. Terserah aja nyamannya gimana.

Kalau dengan cara ini masih nggak bisa mengakomodir undangan dari pihak masnya, atau tamunya malah jadi terlalu banyak, ya bikin lagi aja satu acara tambahan: Ngunduh mantu. Resikonya ya capeknya dobel dan jadi nambah biaya lagi aja. Wkwk, monggo... kalau sanggup dan ada dananya sih sah-sah aja~

gif by giphy


5. Apa saja yang harus dipersiapkan untuk acara pernikahan (resepsi)? 
Banyak. Saya sangat terbantu dengan orang-orang yang rajin menulis tentang persiapan pernikahan di blognya. Walaupun domisilinya berbeda dan saya nggak mungkin pakai vendor-vendor yang mereka review, senang aja sih bacanya, merasa ada teman yang udah pernah ngalamin, jadi banyak belajar juga :))

Beberapa postingan paling berguna untuk gambaran apa saja yang perlu disiapkan adalah dari blognya mbak Puty (sok akrab): Sharing Tips Nyiapin Folder dan Persiapan Pernikahan.
Udah. Semua terangkum di situ, singkat namun lengkap dan detail, memudahkan hidup banget. wkwk.

---

Wah panjang juga.  Yah kira-kira itu beberapa hal yang menjadi pertanyaan umum menjelang persiapan pernikahan. Semoga bisa menjadi gambaran. Kuncinya, semua pihak harus terbuka. Sama-sama kasih insight dan sama-sama menjembatani dua keluarga yang akan besanan ini dengan baik. Sah juga kok, saling berbagi ekspektasi tertentu kalau ada. Baik ekspektasi kamu dan pasangan, atau orangtuanya. Asal dinegosiasikan dengan baik, karenaaaaa marriage is a lifetime negotiation.
Inget, menikah itu yang penting akad dan mahar (selain calon yang mau dinikahin), resepsi dan acara lain cuma pemanis aja. Jangan dijadikan beban ;)


Cerita Lamaran

Beberapa orang nanyain kapan dan gimana Hanif ngelamar. Wah, Hanif sih dari dulu udah sering bilang mau nikahin, apalagi tiap aku tolak dengan "aku nggak mau ya pacaran sama kamu", dia akan balas "ya aku juga maunya jadiin kamu istri aja" seperti yang pernah diceritain dalam series How I met Him part 9 di sini. Hihihi

Dulu, zaman kita belum pacaran, kata-kata itu sering banget dia lontarkan sambil bercanda tapi mungkin juga serius, ini sih ku tanggepin becanda dengan, "Lagi ngelamar ya? wah kalo ngelamarnya kayak gini doang pasti aku tolak" 

Maklum ya, sebagai follower @ohsoperfectproposal di instagram, penonton setia acara melamar  di NET TV, dan tumbuh besar bersama drama korea, membuat saya berekspektasi tinggi...tingii... tinggi sekali nantinya akan dilamar dengan manis (ya nggak usah di depan umum dan se-lebay acara melamar NET TV juga, tapi tetep manis dooooong, tolong). Walau menurut orang-orang saya ini galak, judes dan nyinyir, tapi pas nonton lamar-lamar bule yang manis di youtube ikut nangis seneng masa :""))) aku tuh deep inside 100% mellow dan hopeless romantic banget anaknya, mz mba!

Hari berganti hari, lalu sampai lah dimana Hanif nanyain kapan bisa ketemu Pak Herman (bapak saya) biar bisa bilang mau nikah tahun depan (2017). Terus pertanyaannya bukan will you marry me atau sejenisnya, malah "Kapan kamu bisa ke Jakarta? temenin ke Cikini buat beli cincin lamaran yuk. dari pada ukuran dan modelnya salah..." 

AKU NGGAK DITANYA MAU NIKAH SAMA DIA APA ENGGAK. 

Pokoknya dianggep mau deh terus harus temenin beli cincin. Nggak ada itu one bended knee sambil buka kotak cincin dan bilang will you marry me, boro-boro! Wkwk. Mau marah juga gimana ya. Mau kesel, tapi seneng. Now you know how much I love him

Tips buat mas-mas di luar sana, kalau soal ukuran cincin nggak usah khawatir, ada banyak toko yang mau terima benerin ukuran pasca pembelian kok. Harusnya beliin aja buat prosesi will you marry me itu tadi, nanti setelahnya baru sizing ulang ajak mbaknya. Nggak usah alesan, dasar malas.



Oke, balik lagi. Hanif ketemu Pak Herman nggak cukup sekali, karena tanggepan pertama Pak Herman adalah: "Saya masih belum mau bilang iya, tapi tidak juga menolak, kamu pikirkan pertanyaan saya yang tadi dulu deh. Baru dateng lagi kalau sudah punya jawabannya ya"

Yak. Revisi 1 :))

Dia harus bolak balik sampai akhirnya ganti tahun, baru Pak Herman nanyain, "Yaudah, jadi rencana mau kapan?" Alhamdulillah di-iyain juga deh akhirnya.

Besoknya, Istri Pak Herman (iya, mamahku) langsung sigap ngajakin saya ke mbak iik (penjahit langganan) buat jahitin baju untuk acara lamarannya :)


Ini dia hasilnya, model pilihan beliau, kutu baru panjang. Aku nggak turut andil dalam pemilihan model, iya-iya aja deh biar cepet.


Ini mini cake dan kue-kue kiriman dari Tante Rini, teman mamah di Bandung yang sering banget kumintain tolong kalau di Bandung. Beliau ngirimin kue banyak banget! Kalau nggak ada kue-kue ini, kue yang dibeliin mamah pasti kurang hahaha.



Senang sekali, pakde, bude, om, tante, nenek, dan sebagian sepupu rela datang jauh-jauh dari Jombang, Bogor, dan Bandung. Padahal mamahku bilang yang datang nanti cuma keluarga om ku satu-satunya yang di Cirebon, eh terus kaget pas pulang ke rumah kok rame banget, taunya pada dateeng... walaupun aku udah left group whatsapp keluarga :')

wkwk





Acara lamaran kami diadakan di rumah dinas Pak Herman di Indramayu, dirayakan secara sederhana banget dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Nggak pakai dekor karena males repot juga.




Ini Sari, satu-satunya temanku yang datang bersama adiknya karena temanku yang lain pada sibuk. Jomblo btw. 





Ada cerita nyebelin nan lucu dibalik muka sumringah di atas. Ceritanya mamahku udah booking salon buat make up-in anaknya yang mau dilamar. Aku setuju-setuju aja karena menurut beliau make up nya bagus, pernah dipakai adikku pas wisuda SMA. Oke deh.

Pagi-pagi jam 7, aku dianter adik ke salon. Disambut oleh seorang nenek-nenek.

"Bu, mau make up, kemarin mama saya udah bikin janji"
"Oh bentar ya" Si nenek balik ke belakang, oh... manggil karyawannya kalik, batin saya. Ternyata nenek tersebut membawa busa ala-ala beauty blender tapi bukan! busa hasil comot dari sofa deh kayaknya, jelek banget soalnya hahaha. "Ayo neng, duduk." katanya mempersilahkan.

Tau-tau si nenek ini mengoleskan foundation stick yang diusapkan di busa tadi ke mukaku. Wah perasaan udah nggak enak nih, bener dong, pas buka mata, YA AMPUN APAAN NIH DEMPUL BANGET. Bukan hanya dempul ya, tapi putih kayak ketumpahan terigu. Pernah ditumplekin terigu pas ulang tahun? Nah itu... muka ku waktu itu. Tapi aku tetap positive thinking, mungkin ini lighting salon nya jelek... don't judge a book by its cover.... proses nya belum selesai kalik... mungkin nanti lama-lama menyesuaikan warna kulit.

Selanjutnya si nenek bawa-bawa cukuran jenggot. Mau nyukur alis eik maksudnya :") 
NGGAK BU, NGGAK USAH. 
"dikit aja kok, biar eyeshadow nya nempel"

GAMAU. GAPAPA GAUSAH NEMPEL.

Biasanya make up artist pakein eye shadow base biar eye shadow nempel dan keluar warnanya, ini kok malah cukur alis pake cukuran jenggot??? Biasanya, cukur alis juga pake pinset, atau trimming pakai benang, atau alat lain tapi bukan cukuran jenggot kan T_T

Oke, lalu dia memulaskan eye shadow pakai kuas bawaan dari eye shadownya. Se-ada-ada-nya banget. Lalu gambar alis, pakai eyeliner hitam. Yeah, you read it right, eyeliner yang harusnya buat membingkai mata...dipakai buat alis.... Segaris. Tau nggak alis yang segaris? Alis-alis jaman dulu nenek-nenek banget lah. Terus, eyeliner (yang dipakai buat alis tadi), dipakein di bawah mata. Di bawah mata ya, bukan di waterline... Serem abis. Udah mulai mau nangis pas ngaca wkwk.

Belum selesai, pipi dan dagu diusap blush on warna pink, pakai kuas bawaan blush on nya, tau kan... yang kecil dan cuma berasa geli-geli itu? Sebagai finishing touch, pakai lipstik pink transparan dan glossy luar bisa kayak habis makan gorengan tapi bibir pecah-pecah. Terus mataku dipakein bulu mata palsu yang panjaaang dan lentiknya sampai kena alis. Ini serius. Kalau kedip-kedip tuh, nyusruk ke alis, jadi geli :))) 

Oke selesai.
MAK, MUKA KU SEJELEK INI KAH?  tapi aku masih positive thinking, mungkin karena lightingnya jelek. Jadi aku keluar, bermaksud selfie pake hp. YA AMPUN KU INGIN BERKATA KASAR DAN PINGSAN. Bisa batal dilamar kalau muka gini caranya. hehe sayang banget nggak sempet ke-foto, tapi ya kira-kira mirip sama meme yang beredar ini, pernah liat kan?



Ya harganya emang cuma 37% dari harga waktu adikku make up wisuda di sana sih dan dia yang make up in mbak-mbak--bukan nenek-nenek, dan emang bagus kok aku pernah liat fotonya. Entahlah takdir macem apa ini. Bukan aku juga yang minta murah kok, dan nggak berekspektasi hasilnya akan sebagus MUA kondang macem bubah alfian atau petty kaligis ya, tapi kan nggak gini juga hahahahah. 

Begitu dijemput sama adikku, dia langsung, "Mbak! JELEK BANGET JIJIK"

Lalu kami ngebut, buru-buru hapus make up, lalu make up sendiri karena kalau mau ke salon lain udah nggak mungkin sempet :))
Make up sendiri itu artinya yhaa make up yang biasa dipakai kalau ke mall doang, karena bisanya cuma segitu wkwk.

Saking mental breakdown-nya batal tampil dengan make up cantik di acara lamaran, aku sampe datengin sepupuku yang masih kecil-kecil sambil nanya "Dek, mbak fika cantik nggak???" agar dapet dukungan moril.

Untung mereka bilang cantik. anak kecil kan jujur ya? atau asal nyeplos biar kelar?
Pokoknya aku percaya mereka jujur!!!

Selain masalah per make up an di atas, masih ada satu masalah lagi.
Cincin untuk lamaran ini adalah hasil pesen made by request karena ukuran jariku yang mungilnya tidak umum. Kita milih cincin rose gold polos dengan setitik mata berlian kecil. Ternyata setelah jadi, kayaknya malah kekecilan deh... karena susah banget dilepas dari jari manis kiri ini wkwk. Nanti kalau sempet, mudah-mudahan sempet, mau minta tuker digedein hahaha. Yang penting lamarannya beres :")

Ya udah, sekian cerita lamaran mbak piki yang lagi ribet ngurus ina ini itu.
Semoga lancar! aamin!

Tabik!

Menjadi Field Engineer

Sejak duduk di bangku kuliah teknik kimia dan melihat kehidupan alumninya, saya sudah berniat menghindari pekerjaan lapangan oil & gas, pertambangan, dan pekerjaan sejenis yang mengharuskan saya panas-panasan, bepergian dari satu hutan ke hutan lain, satu remote area ke remote area lain, maupun dari laut ke laut (off shore). Padahal pekerjaan ini salah satu primadona di kalangan lulusan teknik kimia karena duitnya banyak dan gengsinya tinggi, but hey, kita kerja kan nggak cuma cari duit toh?

Di tempat saya bekerja saat ini, di perusahaan yang bergerak di bidang konsultan, R&D, dan jasa pengolahan limbah dimana client-nya adalah perusahaan oil & gas, kemungkinan saya diutus ke lapangan tentu saja ada, tapi saya sempat berhasil meracuni atasan saya, bahwa dengan duduk di meja di head office Bandung saja buat saya cukup. Bolehlah sesekali saya ke lapangan, hanya untuk lihat proses, selebihnya, bagaimana kalau saya meng-assist bapak saja dalam bidang proses, membuat laporan, proposal, menghitung neraca massa, di kantor, dekat dengan Bapak, sehingga lebih memudahkan untuk Bapak mengontrolnya?

Setahun pertama, berhasil. Dalam setahun, sebagai Junior Process Engineer saya hanya menghabiskan 10 + 2 hari di field Gas Plant area Gundih, Cepu (Blora, Jawa Tengah). Itu pun saya jalani dengan menderita, nangis di kamar pas malam hari, dan merengek minta pulang ke bos. Ya, kemungkinan juga saya masih adaptasi banget, pengalaman pertama kerja lapangan.

Cepu panas banget, mes nya nggak enak, teman-temannya kurang asik, orang-orang di plant banyak yang suka resek, belum lagi di sana mayoritas laki, dan ngeliat ada cewek kayak kucing garong liat ikan asin. 

Memasuki tahun kedua, proyek makin banyak, dengan jumlah engineer tidak ditambah, malah ada yang cuti kuliah. Semua keteteran. Di sini lah hati harus legowo menerima kenyataan saat si bos bilang, "Fik, jadi field engineer di Sulawesi ya? Atuh da nggak ada orang lagi..."

Well....




Sudah dua trip saya ke Desa Toili Barat, Banggai, Sulawesi Tengah dalam rangka kerja. Trip pertama 23 hari, Trip kedua 10 hari. Bahkan pasca trip kedua saya nggak dapet jatah off selain sabtu-minggu, karena ada lembur deadline laporan. 

"Gitulah kalau jadi anak kesayangan si bos, selamat kerja ya" kata atasan saya yang lain. Huhu.

Normalnya, ketika kita pulang dari field, kita dapat jatah off libur minimal 3 hari, untuk trip lebih dari 2 minggu, jatah offnya juga lebih banyak. 


Diluar dugaan, nggak sekali pun saya merengek minta pulang selama di Sulawesi. Kerjaan nggak se-padat ketika saya duduk di meja, duit lebih banyak, dan gaji utuh karena biaya hidup selama di field ditanggung. LOH KOK ENAK YA TERNYATA?

Dibanding Cepu, yang menurut saya penuh penderitaan, Toili ini sangat manusiawi baik dari segi kerjaan maupun non-teknis, salah satu contohnya mes tempat kita tinggal:



Not to mention alam Sulawesi yang cantik banget, bahkan pemandangan ini bisa dinikmati cukup beberapa langkah dari mes.







Untuk memulai hari supaya lebih semangat, tinggal buka jendela di waktu subuh lalu voila, magical sunrise straight from your window...





Untuk menutup hari, bisa lihat bulan juga dari jendela... Pardon my lens, cuma lensa kit mure...



Sepanjang pulang dari gas plant, pemandangannya sawah begini....



Jalan rada jauh, ada bendungan mentawa dengan pemandangan kayak surga...



Jika Bendungan Mentawa adalah surga, maka inilah bidadarinya....



Oke sori, skip.







Mendengar cerita dari teman saya yang 13 Bulan di sana, di ibu kota kabupaten Banggai, yaitu Luwuk yang berjarak 2 jam dengan mobil kecepatan ngebut, pemandangannya lebih cihuy lagi. Berhubung waktu kami terbatas, di Luwuk kami hanya sempat ke Bukit keles dan teluk Lalong di malam harinya.


Ini bukit keles. Bukit, keleeeusss.





Di sini bisa ngopi-ngopi, dan ngemil. Paling asik emang sore atau malam sih.

Kalau ini, teluk Lalong di malam hari. Gelap. Iyalah.




Pulang dari sini, atasan saya lantas bertanya, "Lebih suka kerja di lapangan gini atau di atas meja?"

Jawaban saya berubah jadi:

"Suka dua-duanya, ketika kita di field, enak soalnya nggak bosen kerja di atas meja melulu. Ketika kita di atas meja, enak soalnya nggak perlu pergi-pergi ke field"

"HHH, gila kamu ya. Ya sudah, mumpung belum kawin, kamu ke depannya jadi field engineer dulu ya. habis ini ikut training offshore"

EH MAAP PAK, GIMANA? OFF SHORE?

Semoga becanda doang ya.

Paling nggak enak dari kerja di field adalah susah sinyal, otomatis nggak bisa melakukan aktivitas update dan kepo--which are actually good for my psycological condition. Selain itu pulang-pulang kulit udah kecoklatan kayak Tara Basro, bedanya Tara Basro terlihat glowing dan gorgeous, sementara saya... keling kayak anak kampung habis main layangan.





Ngapain Diet?

"Ngapain sih diet, kamu kan kurus?"

Ini pertanyaan yang paling sering saya terima ketika saya bilang nggak makan ini-itu karena kalorinya tinggi.



Ini foto yang diambil bulan Mei 2016, kira-kira empat bulan yang lalu, di perjalanan menuju pantai rancabuaya, Garut. Sekilas memang badan saya terlihat sedang-sedang saja, beberapa mengatakan terlalu kurus. Tinggi badan 156 cm, berat waktu itu 49 kg. BMI-nya sekitar 20.1 dan masih masuk dalam rentang kategori normal weight. Padahal kalau dilihat dan diukur, lingkar perutnya 76 cm. Pffft. 

Saya sempat nge-gym di HELIOS MTC, dan saya kaget waktu pengukuran awal, kadar lemak saya 30% dan tergolong obesitas. Kaget banget. Kok bisa kurus tapi obesitas? Saya sadar betul perut saya buncit sejak kuliah, paha saya juga mulai melebar dan spasi antar paha makin sempit, tapi saya juga nggak sampai beranggapan saya ini obesitas. Berjilbab juga membuat saya terlihat kurus dari luar. Lha wong sering dibilang kurus kering sama orang, dari lahir nggak pernah merasakan gendut, makan sebanyak apa pun nggak akan gendut, bahkan berat badan saya pernah hanya sekitar 39 kg saat kuliah :))

Nggak pernah merasa gendut, dan nggak terlihat gendut membuat saya berpikir kesehatan saya baik-baik saja. Ini lah yang bahaya. Karena penasaran, saya mencari tahu memangnya orang kurus bisa mengalami obesitas? siapa tahu saya ditipu sama trainer HELIOS biar rajin nge-gym. Wahaha.

Ternyata trainer saya di gym nggak bohong. Orang kurus dengan kadar lemak tinggi istilahnya adalah skinny fat, atau TOFI (Thin Outside Fat Inside). Selain bentuk badan yang jelek, kondisi ini sangat nggak sehat karena membuat kita merasa aman makan apa pun, bukan tidak mungkin lemak ini menyelubungi organ di perut.

Gimana cara benerinnya? Bukan dengan cara menyebar lemak dari perut ke pantat dan ke dada ya, gimana pula itu caranya. Gampangnya sih bakar lemaknya, lalu diganti dengan otot. Badan yang terlalu kurus juga nggak enak dilihat kan, paling sexy sih badan lean dan berotot.

Ini perbandingannya:
 










Kita nggak bisa olahraga doang tanpa atur makan atau diet. Bukan diet dengan nggak makan sama sekali dan melaparkan diri ya. Ini pernah dijelaskan @fxmario (seorang persoal trainer), kalau mau baca selengkapnya bisa di sini

Lemak mempunyai fungsi utama sebagai energi simpanan, atau cadangan. Tubuh kita akan terlebih dulu membakar energi, yang satuannya adalah kalori, baru kemudian lemak ketika tubuh sudah kehabisan energi. Sebanyak apa pun kita olahraga, kalau asupan kalorinya lebih besar, atau sangat besar dari kebutuhan tubuh, maka yang dibakar ya si kalori itu tadi, lemaknya nggak kebakar-bakar, cmiiw.

Makanya kita nggak bisa berpegang pada olahraga doang kalau makan masih awur-awuran. Beberapa artikel bahkan lebih menyarankan atur asupan makan dari pada olah raga. Tentu hasilnya nggak akan sebagus olahraga + diet.

Saya masih dalam tahap pelan-pelan mengubah pola makan dan menakar kalori yang masuk. tiga buah gorengan yang biasa kita cemil itu kalorinya sama dengan 1 piring nasi lauk. Bulan puasa tahun ini, saya benar-benar menghindari gorengan sebagai takjil, dan mengurangi minuman manis. Hanya pakai air putih dan kurma atau buah lain sebelum makan besar. Makan besar juga secukupnya tanpa kalap. Hasilnya: berat badan saya turun 3 kg menjadi 46 kg, dan lingkar perut berkurang 2 cm.

Kalau 3 kg yang hilang itu adalah lemak, mengacu pada gambar di atas, ya sangat lumayan lho.

Goal utama saya mau sehat sih, at least kadar lemak normal :))
Badan bagus ya alhamdulillah jadi bonus, perkembangan hidup sehat saya akan saya ditulis kembali di postingan lain supaya tidak terlalu panjang. Terima kasih sudah membaca!




How I Met Him #11 - Epilog

Sejak saat itu, kami jadi sering makan, nonton, dan jalan bareng. Sering panggil sayang juga, walau (saya) ngaku ke orang-orang masih jomblo. Sampai suatu hari saya di-"sidang" oleh sahabat-sahabat kuliah, dengan keputusan sebagai berikut:

"ITU SIH ELO PACARAN NAMANYA, MBAK!" semua pada bilang gitu. Oke. Ya sudah deh, walau tidak tau kapan resmi pacarannya, kalau ditanya orang, harus mengakui bahwa itu pacar :))

Then we live happily ever after!

 

Nggak deng, bohong. There's no such thing as 'happily ever after'

Masalah pasti dan akan selalu ada. Walau orang bilang pasangan hidup terbaik adalah teman sendiri karena dia sudah lama mengenal dan sangat mengerti kita, kenyataannya nggak gitu juga. Seperti apa yang dikatakan oleh John Gray: Men are from mars, women are from venus.  

Nggak usah ngarep akan ada orang yang 100% mengerti kita, karena kadang kita sendiri pun nggak ngerti kita ini maunya apa. Ya kan? Apa lagi pasangan kita, yang beda planet itu. Kita cuma bisa mencoba mengerti, karena setiap orang maunya dingertiin. 

Keuntungan memiliki pasangan yang sudah lama mengenal kita sebagai sahabat adalah, kita bisa skip tahapan mengenalkan diri kita yang ribet dan runyem ini ke orang baru. Itu saja. Lalu, bagaimana saya bisa yakin bahwa he's the one?

You will eventually know.
How?
You just know... :)

Banyak hal menyebalkan dari Hanif, tapi saya tau pasti, kalau nggak ada dia, hidup pasti lebih terasa menyebalkan lagi. Banyak hal dari saya yang pasti membuat Hanif sebal, ini akan terdengar sangat naif dan kegeeran, tapi saya percaya Hanif nggak akan kepikir nyari perempuan lain lagi yang jauh lebih baik dari saya untuk menjadi pasangan hidupnya, bahkan sejak 4 tahun yang lalu mungkin :p

Seperti kata pepatah: "Love is what is left after the butterfly's gone"

Some people continue to move from relationship to relationship after the initial euphoric high levels out.. It called "infatuations addict"
Some go on into the next mature level or kind of Compassionate Love. Mature Love transforms into loving the other person as he or she is. (pernah dibahas di tumblr)

Saya nggak tau apakah sepuluh-dua puluh tahun lagi kami masih merasakan hal yang sama, nikah aja belom, yaelah yang nikah juga bisa cerai. Tapi semoga catatan ini akan selalu mengingatkan, kita pernah punya hubungan yang manis, dan semoga bisa manis terus sampai kakek-nenek :)





How I Met Him #10 - Good Night

Saya masih bersikukuh, bilang ke Hanif, nggak mau pacaran, tapi nggak mau menjauh dari dia. Dua tahun hampir lost contact ternyata kangen juga rasanya. hahaha. Dia pun setuju-setuju saja.

Suatu hari saya sakit, dia yang nganter saya ke rumah sakit, nganterin makan ke kosan saya dua sampai tiga kali sehari walaupun tempat tinggal saya dan dia jauh banget. Saya udah sering nolak karena nggak enak, kasian, dan kesannya memanfaatkan. Lagian saya sudah terbiasa mandiri dan berdikari! halah. Tapi dia tetap memaksa, ya sudah. 

Perhatian berlebih dia saat saya sakit waktu itu, mengingatkan kejadian waktu saya kecelakaan sama Astri yang saya ceritakan di sini. Cerita-cerita seru masa SMA mendadak berkelebat di ingatan. Memang benar kata orang-orang, perasaan yang belum selesai lebih berbahaya dari pada mantan pacar!


Saat dia sudah mulai mengurangi durasi chat nya ke saya, kok saya jadi nungguin dan liat hp terus. Kadang gemas, mau ngobrol tapi nggak tau mau ngobrolin apa, ujung-ujungnya kirim sticker line, tapi nggak mau ngaku kalau kangen.

Berhubung teman-teman saya saat itu sibuk ngerjain tugas akhir, jadi lagi susah-susahnya banget diajak makan, nonton, dan jalan-jalan, cuma Hanif yang available diajak kemana-mana. Saya anaknya lumayan males, kalau stres maunya cari pelarian ke kegiatan yang menghibur. Terpaksa dengan senang hati--kontradiktif sekali-- Hanif yang saya ajakin, karena lagi nggak mood sendirian (ah bisa aja cari alesan). Makin sering ketemu, makin sering lah saya mikirin dia. 

Saya juga masih sering berdoa kayak yang saya ceritakan di episode Pray. Entah memang saya berdoa berdasarkan perasaan naksir saya yang belum selesai sama Hanif, atau memang doa saya dikabulkan (saya pilih yang kedua biar kayaknya dramatis), tapi tanpa saya sadari, Hanif punya segala aspek yang selalu saya minta ada di pasangan hidup saya kelak. Semuanya. Termasuk ke hal-hal sepele seperti punya selera musik yang nggak umum, suka makan sayur, alisnya tebel, punya lesung pipi...
 
 
Makin saya pikirin deh dia.



Dan tibalah momen itu,
dia mengucapkan "Good night" via line messenger, yang saya balas dengan "Good night, sayang"




How I Met Him #9 – His Confession

I’m back to single market with broken heart, sekaligus jadi momen yang sangat menyenangkan karena sudah lama tidak menjalani kehidupan single. Ehehehehe. Main sesuka hati, mingle sana sini, dan yang paling menyenangkan, kembali hang out sama Hanif, as a friend.

Sebagai teman, Hanif memberikan perhatian yang berlebih. Saya nggak mau kege er-an, tapi saya beri dia peringatan berkali-kali 
“Aku nggak mau ya, pacaran sama kamu” and this time I mean it. 
Saya mau membuka lembaran baru, dengan orang yang baru. Buat saya, Hanif adalah crush masa SMA. Sudah lewat masanya. The end. Biar jadi sweet memories saja.

Hanif masih saja berkelakar, nggak mau juga jadiin saya pacar, maunya jadiin istri. Yah, terserah. Lagi pula waktu itu saya cukup disibukkan dengan tugas mahasiswa tingkat akhir, ada penelitian, rancang pabrik, kerja praktek, sibuk deh pokoknya.

Suatu hari saya lagi di luar belanja sama teman kuliah, datang whatsapp dari Firzal. Firzal ini teman dekat Hanif, teman SMA saya juga. Kos-kosannya dekat, 5 menit dari kos-kosan saya. Tumben amat, dia bilang mau mampir ke kosan saya, ada yang mau didiskusikan harus hari ini dan urgent. Berhubung saya masih di luar, saya minta dia nunggu sampai jam 21:30 kalau dia mau. Lalu dia setuju.

Begitu saya pulang, saya kabari Firzal. 5 menit kemudian dia bilang sudah di depan. Saya keluar, lalu terdengar suara firzal dan temannya nyanyi-nyanyi, begitu saya noleh, yang muncul Hanif, dan bawa spanduk. Spanduknya kayak gini:






APAAN NIH?

Saya nggak berekspektasi akan mendapatkan pernyataan cinta dari Hanif, wong saya sudah sering kasih peringatan. Hanif lalu bilang,
“Aku cuma mau kasih tau, aku serius sayang sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu kayak dulu lagi, hanya karena aku terlambat ngasih tau”
Saya masih mencerna ini pelan-pelan, speechless.
“Aku nggak tau harus ngomong apa”

“Kamu nggak perlu ngasih jawaban sekarang. Aku kayak gini cuma mau menegaskan aku serius, udah. Itu aja. Nih ambil aja spanduknya, terserah mau dijadiin apa, dibuang juga boleh.”
Tumbuh dewasa bersama drama korea membuat saya selalu ingin mendapat pernyataan cinta yang manis dan romantis. Ini pertama kali saya menerimanya, tapi sensasinya aneh, karena saya tidak berharap pernyataan ini datang dari orang macam Hanif.

Oke. Selesai. Lalu mereka pulang. Spanduknya saya foto, lalu saya share ke group chat sahabat kuliah saya. hahahahaha


How I met Him #8 – Pray




Hari-hari bahagia bersama A lama kelamaan semakin sedikit. Banyak hal yang awalnya kami kira cocok ternyata tidak bisa dicocokkan. Seorang teman pernah bilang, makin mirip sifat kita dengan sifat pasangan, makin sulit kita akur. Terbukti.

Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan menyebalkan tersebut setelah 2 tahun, kalau tidak salah. Saya sedih, nangis berhari-hari, sempat memohon balikan, ditolak, sedih banget. Kalau diingat sekarang, rasanya mau muntah.

Dalam waktu singkat, A punya pacar baru lagi. Tentunya saya makin sedih. Dan sekarang saya makin ingin muntah mengingatnya.

Saya benci banget sama si A ini. Saya sampai berdoa macem-macem supaya dapat pasangan hidup yang sangat kontradiktif dengan A dalam berbagai aspek, sampai ke hal sepele. A tidak suka makan sayur, saya berdoa sama Tuhan supaya dikasih pasangan hidup yang sangat suka sayur. A pernah mengejek saya (mungkin bercanda) karena saya nggak tau lagu-lagu top40 di chart radio pada umumnya, saya berdoa semoga dikasih pasangan hidup yang selera musiknya sulit ditebak, yang nggak dengerin top 40. Kira-kira begitu.

Doa saya yang lain—yang kurang penting—adalah semoga dapat pasangan hidup yang alisnya tebal, senyumnya manis ada lesung pipinya, orangnya tenang dan tidak meledak-ledak seperti saya dan A, yang sifatnya tidak mirip dengan saya, tapi selaras dan satu visi. Tentu saya berdoa hal-hal common seperti ingin dapat pasangan hidup yang pekerja keras, family man, bisa diandalkan, gentle, dewasa, dll dsb dkk.

How I Met Him #7 – Confession

Saya bukan tipikal cewek yang populer banget di kampus, nggak cakep-cakep amat juga, tapi hp saya sih nggak pernah sepi. Duh kesel nggak bacanya? Saya pun yang menulis geli.

Berbagai jenis orang mencoba pendekatan dengan berbagai metode aneh yang saya ceritakan juga ke Hanif. Saya diketawain. Suatu hari Hanif ngajakin jalan, kebetulan ada wahana rumah hantu baru di Jogja.
“Yuk yuk! Aku pingin ke sana. Sama siapa lagi nih?” line khas anak friendzone banget kan.
Jujur saya takut terbawa suasana dan kembali naksir Hanif lagi kalau kita cuma pergi berdua. Kan sudah susah susah move on. Nggak boleh rusak dong. HAH. Cupu. Akhirnya dia mengajak Hanry, teman SMA kita juga.

Selesai dari rumah hantu, kami mampir ke Mcd karena lapar. Di Mcd, yang jadi bahasan adalah berbagai cowok aneh yang deketin saya. Tentu saja sambil diketawain. Sampai akhirnya saya cerita ada 1 dari yang deketin, yang kayaknya saya merasa cocok banget, sebut saja A. A adalah senior saya di kampus. Saya ceritain ini ke mereka sambil senyum-senyum.

This part is disgusting, saya malas membahas ini, because you know, ada beberapa orang yang ketika kita akhirnya sadar, kita jadi bisa berpikir 
“anjis lah, kenapa dulu bisa mau pacaran sama yang macem itu?” tapi part ini penting. So I’ll tell you anyway *rolling eyes*

Nggak lama setelah itu, saya akhirnya pacaran sama si A.

Saya pernah berniat, suatu hari kalau sudah move on dari Hanif, saya akan jujur ke dia tentang perasaan saya dulu. Yah just for fun. Hari itu pun akhirnya tiba. Sambil menceritakan betapa bahagianya hubungan saya sama si A via BBM, saya bilang,
“Eh, dulu aku sempat naksir kamu looh. Hahahahaha. Apa banget yaaa.hahahahah”

“Lho beneran? Kenapa nggak bilang dari dulu? Aku padahal juga”

“Eh?....”

“Waktu ke Mcd kan mau pdkt, eh kamu cerita tentang A, seneng banget kayaknya. nggak jadi deh. Hehe”
Rasanya kayak ada tembok yang hancur di kesunyian. Hehe. Zing.




But it’s okay, saya kan sudah move on! Sudah nggak suka lagi sama dia, ya suka sebatas sahabat aja heheeheheheh.

Gitu sih mikirnya, agak dipaksakan, tapi benar sih. Rasanya udah bahagia sama si A. Lalu kami bertingkah seolah tidak ada apa-apa.

Saya ceritakan ini ke A, for the sake of a good girlfriend yang menceritakan segalanya ke pacarnya. Turn out that A orangnya sangat insecure, dia melarang saya main sama teman SMA saya, termasuk Hanif, karena dia tau sejarah kami. Dan saya nurut. WHY?!!

Hanif sangat mengerti. Saya lost contact sama Hanif sejak saat itu. Kami berhubungan hanya ketika idul fitri, idul adha, atau ketika ulang tahun. Typical “hai, selamat idul fitri maaf lahir batin, semoga bla bla bla. Kamu apa kabar?”
:))

Ini Hanif sih yang selalu memulai. He’s a good friend of mine, salah satu dari sedikit yang mau menjalin hubungan pertemanan dengan saya dalam periode yang cukup lama. Saya rasa sekali-kali menjalin komunikasi di momen tertentu nggak salah. Saya tidak ingin memutus pertemanan. Terlebih dia teman yang sangat baik. Walaupun kita pada akhirnya cuma bisa bertatap muka ketika ada reuni buka bersama teman SMA dan momen sejenis.

Selama 2 tahun saya pacaran dengan A, Astri masih sering bilang, bahwa Hanif ternyata masih tidak bisa move on dari saya. Bahwa Hanif selama ini jomblo karena cintanya udah abis buat saya, nggak bisa pacaran sama wanita lain karena hatinya masih terus memikirkan saya. Oh tentu belajar dari pengalaman masa SMA, saya tidak lantas percaya begitu saja.

Saya bahkan sering bilang, setengah bercanda , 
“Pokoknya nggak mau pacaran sama kamu, Nif!” yang dia tanggapi dengan “Iya, aku juga nggak mau jadiin kamu pacar. Maunya jadiin istri aja” with his charming smile.

Pelangi, bintang, senja, pemandangan dari atas gunung, matahari terbit, kalah sama senyumnya Hanif kala itu. Sekali dia tersenyum, seluruh tembok pertahanan ambruk. Mati gaya.

Detik berikutnya saya sadar, saya tidak boleh terbuai dengan flirting-flirtingan ini! Dia pasti cuma bercanda! Nggak usah GR Jangan sampai erotomania nya kambuh lagi!

How I Met Him #6 – Move On

Saya tidak terlalu bisa menjaga hubungan baik dengan orang yang sama dalam waktu yang lama. Sahabat datang dan pergi sesuai masanya. Sahabat SD, dulu banyak karena SD nya juga pindah-pindah, namun tidak ada yang benar benar bertahan sampai sekarang. Sahabat SMP? Dulu punya 1 geng pas kelas 1 SMP, naik kelas lalu bubar. Kelas 2 SMP, saya berteman dengan banyak orang, dan tentu saja langsung menjauh menjalani kehidupannya sendiri ketika naik kelas. Kelas 3 SMP, sahabat saya kayaknya cuma Cintya seorang. Dia satu-satunya yang masih berhubungan lumayan intens bertahan sampai SMA dan sekarang.

Sahabat SMA? Banyak. Cintya salah satunya. Yang bertahan suka saya ajak berinteraksi sampai sekarang sih yah paling 3-4 orang. Orang ini termasuk Astri dan Hanif. Sisanya, kami berinteraksi di social media, atau mentok-mentok pas nyari temen kongkow di Cirebon, jatuhnya reuni ya?

Sahabat kuliah. Ini sih yang masih bisa saya keep. Mungkin karena sahabat kuliah muncul ketika sudah di era group chat semacem LINE. Lebih mudah untuk menjaga interaksi. Walaupun sudah beda domisili, masih ada grup curhatnya.

Saya nggak tau apa yang salah, teman-teman saya baik semua, saya juga rasanya nggak jahat-jahat amat. But yeah, people come and go.

Saya dan Hanif akhirnya sama-sama kuliah di Yogyakarta, di universitas yang berbeda. Saya senang, karena kami masih menjaga komunikasi walaupun sudah nggak satu sekolah. Seperti yang sudah dijelaskan di kalimat awal paragraf pertama, saya sulit menjaga hubungan pertemanan dalam waktu lama. Waktu itu era Blackberry Messenger (BBM).

Masa awal kuliah adalah masa adaptasi. Saya masih belum punya teman sebaik teman-teman SMA saya. Supaya nggak sedih-sedih amat, saya ke tempat cetak foto, lalu ngeprint berbagai foto saya bareng teman-teman SMA untuk di tempel di meja belajar. Semua foto yang dicetak selalu ada saya. Saya bareng si A, saya bareng si B, saya bareng geng C. Kecuali foto ini:


Saya nggak segitu terobsesinya sih, but I don't know why I did that. Just, WHY?
Saya punya banyak teman laki-laki pas SMA, tapi yang menjalin hubungan baik secara intens ya Hanif doang.

Ketika hubungan dan pacar saya yang waktu itu hampir 5 tahun berakhir selamanya dan memutuskan nggak akan balikan lagi no matter what, Hanif adalah salah satu yang saya datangi untuk curhat. Tentu saya sedih, 5 tahun pacaran, walaupun saya brengsek, saya juga sedih banget waktu itu.

Hanif menjalani masa ospek kampus yang membuat dia jadi sibuk, dan botak setahun. He still cute though. Oke, bukan itu poinnya. Kami jadi jarang ketemu. Saya pun memutuskan untuk move on dari Hanif. Karena rasanya, hubungan saya dan hanif ya cuma mentok sebagai sahabat. Dia nggak menganggap lebih, walaupun saya ngarep, tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya merasa saya jauh dari tipe idaman Hanif, melihat pacar-pacar jaman SMA nya. Lagian, kalau saya pacaran sama Hanif, saya jadi nggak punya temen laki yang saya bisa keep lagi dong. Punya temen laki, ganteng, baik dan bisa diandalkan kan menyenangkan?

How I met Him #5 – Friendzone

Seiring berjalannya waktu, erotomania saya semakin sering kambuh. Hal ini diperparah Astri yang sering menggoda dengan bilang bahwa Hanif juga suka sama saya, tapi memendam perasaannya, karena tidak mau merusak persahabatan yang sudah terjalin, sama kayak saya. Halah.

Belakangan baru saya tau, Astri juga bilang tentang perasaan saya ke Hanif, yang mana adalah benar. Sementara perasaan Hanif yang disampaikan Astri itu, mengada-ngada. Demi menjodohkan kita.

Saya sih setengah nggak percaya. Setengah ngarep.

But Hanif is being Hanif.

Dia tetap bersikap baik, manis dan menyenangkan buat saya. Membuat saya merasa spesial dengan berbagai cara. Salah satunya dengan chat Yahoo! Messenger (YM). Dulu aplikasi paling hype buat chatting ya si YM ini.

Pernah kita 3 malam chat sampai jam 12 malem lebih, membahas apakah masing-masing kita menyimpan suatu cerita yang dirahasiakan. Kurang lebih isinya begini:

“Ayo, ceritain! Kamu kok nggak mau cerita sih”

“haha kamu aja yang cerita. Aku sih kalau ada apa-apa pasti cerita. Kan kita classmate, GO mate, soulmate :D”

Friendzoned detected.

Saya sih tentu saja ngarep dia bakal ngaku bahwa dia memendam perasaan buat saya, which is... silly.

Di tengah-tengah chat itu saya sempat memunculkan jokes 
“awas lho ntar suka sama aku”

yang mana sekali lagi adalah... ngarep. Dia ketawa. Kita bahas hal lain, saya sempat bilang “ih jijik” lalu dia balik becandain saya dengan jokes yang sama

“Wah jijik-jijik, awas lho ntar malah suka sama aku”

“Haha iya emang udah suka kok” (LHO KOK MALAH EIKE YANG NGAKU)

“Hahhahahaha pret!”

“eh iya loh beneran” (I don’t know why I did this T_T)

“Eh serius????? Saya nanya nggak bercanda lho”

“udah sana solat dulu katanya mau solat”

“udah solat nih”

“yaudah tidur katanya ngantuk”

“udah nggak jadi ngantuk. Jadi yang dibilang Astri nih beneran ya? Jadi ini ya yang kamu maksud kalau kamu bilang akan bikin aku ilfil? Enggak kok, tenang aja :) ”

Apa nih, dia cuma memunculkan emoticon senyum. *tungguin 15 menit* OKAY FIX INI CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN. MALU! Abbort Mission. Retreat!

“Eh, jangan dianggep serius ya hihihihihi”

“Aah yang beneeer?”

“Iya beneeer”

“Hahaha lucu”

“Apanya?”

“Kamu. Jadi pengen liat langsung mukanya”

*BLUSHING*

Kenapa sih cowok kalau tau lagi ditaksir cewek malah jadi seneng bikin gr gitu?

Kenapa?


Selanjutnya, hubungan kami masih berjalan seperti sebelumnya. Curhat-curhatan, ngobrol nggak jelas, dia ngacak-ngacak rambut saya, saya numpang tidur di bahu dia di perjalanan ke luar kota bareng teman-teman lain dan flirting-flirting yang saya tau ini jebakan friendzone belaka, tapi cukup membuat saya senang. Ya namanya jug libra. Karakteristiknya memang tukang flirting dan suka gede kepala. *Nyalahin zodiak*



By the way, film dengan tema friendzone selalu jadi favorit saya sejak dulu. Karena rasanya sangat related ke kehidupan saya. Hihihi. This is one of my favourite: “What If” 

 

How I Met Him #4 – Indikasi Erotomania



Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau diceritakan dengan Bahasa Indonesia ya. Aduh maafkan ketidak konsisten-an ini wkwk. Mari kita lanjutkan saja ceritanya.

(episode sebelumnya bisa dilihat disini)

Ada banyak pengalaman saya dan dia yang kadang bikin saya merasa gr (gede rasa. OMG bahasa jaman kapan). Beberapa bahkan masih saya ingat dengan jelas, padahal kejadiannya sungguh kurang penting dan sudah sangat lama.

Pernah suatu hari saya dan teman-teman sekelas mau melayat ke salah seorang guru kami yang anaknya baru saja meninggal. Kita semua naik motor boncengan dan konvoy bareng-bareng. Saya dibonceng Astri. Di jalan kita bahas si Hanif pujaan saya ini. Kita cekikian—mungkin Astri jadi nggak fokus nyetir—lalu motor kami jatuh terpeleset di pasir. Saya terpental ke tengah jalan, Astri juga, dengan posisi jatuh lebih parah. Tepat di depan motor kami adalah motor Hanif. Dia langsung menghentikan motornya dan bantu saya berdiri. Beberapa teman membantu Astri—yang saat itu nangis meraung-raung, dan satu teman laki-laki lain yang phobia darah langsung duduk termenung di pojokan. Literally duduk termenung di pojokan, dengan wajah stres.

“aku nggak apa-apa kok. Liat nih bisa loncat-loncat” saya mengucapkan ini sambil loncat dan cengengesan, sok jagoan.

Padahal dengkul saya sobek berdarah-darah, tapi tertutup rok. Ini demi Astri supaya dia nggak terlalu merasa bersalah. Tau saya baik-baik saja akhirnya semua orang sibuk bantuin Astri karena dia nggak bisa jalan dan harus dibopong, lukanya terekspos dan dia nangis sesenggukan. Kebetulan lokasi kecelakaan itu dekat dengan puskesmas, jadi kita semua memutuskan untuk kesana untuk pertolongan pertama. Semua orang mengerubungi astri sambil bantuin dia jalan. Kecuali Hanif.


Saya jalan di belakang sendirian. Lalu Hanif nyamperin dan jalan di sebelah saya dengan ekspresi cemasnya—yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas setiap garis lekuk wajahnya saat itu. Kadang masih suka terngiang-ngiang (yes sampai sekarang)

“kamu bener nggak luka? Lah itu apa!” eh ternyata dia lihat lutut saya yang berdarah. “Sini duduk, dibersihin dulu”


Saya tau banget dia juga phobia darah persis temen saya yang waktu itu cuma bisa terduduk di pojokan. Dia ambil botol air mineral, lalu mencuci luka saya dan tangannya gemetar hebat :)) saya makin cekikikan, dan dia keukeuh maksa mau bantu bersihin.

COBA GIMANA EIKE NGGAK MAKIN LULUH LANTAH DAN GR?

Semua orang tampak nggak peduli sama saya, bahkan nggak ada yang daftarin saya di UGD buat dapet pertolongan pertama, yang didaftarin cuma Astri. Hanif satu-satunya yang perhatiin saya, bahkan bantuin bersihin luka padahal dia phobia darah. Sementara temen saya yang lain yang juga phobia darah cuma bisa duduk termenung.

yah kalau dipikir-pikir sekarang, menolong orang yang membutuhkan kan memang manusiawi ya. Semua orang normal akan melakukan itu sih selama dia masih punya hati nurani. Bisa dipastikan saat itu saya memang terindikasi mengidap erotomania. Untungnya masih dalam batas wajar sih, belum sampai mengganggu kualitas hidup :))






Piknik di Kebun Mawar Situhapa

Bandung di waktu weekend biasanya sudah penuh sesak oleh kendaraan ber-plat B, saya yang bukan warga asli Bandung pun sebal kalau harus menghabiskan hampir 2 jam menuju kota, bahkan Lembang sekali pun, sudah ikut terjajah. 

Weekend kemarin, mengikuti saran Pak Bos, saya dan Hanif akhirnya mengunjungi Kebun Mawar Situhapa di Garut. Beliau bilang di sana masih cukup sepi karena tempatnya relatif baru dan belum banyak orang berwisata ke sana. Tempatnya dekat sekali dari Bandung, lebih tepatnya dari kontrakan rumah saya di Derwati. Kira-kira 1.5 - 2 jam sudah sampai via sapan-majalaya-ibun, tapi jalannya masih belum bagus dan beberapa menukik tajam. Mobil saya yang adalah Brio dan matic nampaknya cukup tersiksa, tapi dia mampu lho.

Kalau mau jalan yang bagus, disarankan lewat jalur nagrek dan kota garut, tapi ya memang muter agak jauh, bisa 2 jam lebih.



Ternyata ini adalah villa dan resto. Kalau menginap di sana, biaya masuknya free. Berhubung kami tidak menginap, jadi bayar tiket 15,000 per orang. Sebenarnya di tiketnya tertera tidak boleh membawa makanan/minuman dari luar--yang mana baru saya baca sekarang. Padahal kemarin kami piknik dan bawa berbagai makanan. Beli sih, mendadak beli di indomaret karena baru kepikiran untuk piknik.



Isi kebunnya tidak hanya bunga mawar, bahkan ada kaktus juga, tapi menurut saya pribadi, lahannya terlalu kosong. Bunganya kurang banyak! Kurang teduh juga, panas banget cyin. Sempat mendung sih di beberapa foto, tapi tetap kalau pas panas, nyentak-nyentak banget panasnya.


 







Di sini ada playground juga untuk anak-anak, termasuk anak kantoran.


 




































Foto koleksi pribadi.

Kebun Mawar Situhapa
Jl. Raya Kamojang Km. 5, Kec. Semarang, Garut Kota, Jawa Barat
Tlp: (0262) 4706006

Kebun Mawar Situhapa di google maps:
https://goo.gl/maps/ZV9MBE4ToZo