Cerita Promil 1 - Memilih Obgyn dan Androlog di Bandung

1:52:00 PM

Saat menulis cerita ini, usia kandungan saya alhamdulillah sudah memasuki trimester 3.  Dari dulu sudah berniat, kalau suatu hari program hamil (promil) kami berhasil, pengen deh cerita-cerita di blog juga, karena saya juga banyak terbantu sama orang-orang yang melakukan hal yang sama. And yes, spoilernya promil kami berhasil.tapi please jangan berharap banyak, karena ini promilnya jujur aja agak kurang niat dan kurang ambisius wkwk. Karena agak panjang, mungkin akan diceritakan dalam beberapa part.

Oke langsung aja ya.



Saya dan Hanif memang awalnya berniat menunda punya anak sampai kira-kira 6 bulan usia pernikahan, tapi tanpa kontrasepsi yang gimana-gimana karena toh cuma jangka pendek. Kenapa? Ya banyak lah pertimbangan, tapi pertimbangan utamanya sih menyiapkan mental. 6 bulan kayaknya udah cukup buat honeymoon berdua-duaan (yang mana ga kesampean karena kita LDM + sibuk beraaat, dan yang paling utama: nggak punya uang buat liburan wkwk).

(Nih kalau mau baca kenapa kami LDM: Cerita Long Distance Marriage)

Sebenernya saya mintanya 1 tahun, tapi setelah berbagai negoisasi disepakatilah 6 bulan ini. Satu hal yang mungkin saya nggak sadari, cara kerja Tuhan ngasih kita rezeki berupa anak tuh nggak kayak gitu. Nggak dengan kita "merasa" siap, terus tinggal bikin, dan voila! bayinya jadi. Nggak.

Setelah 10 bulan usia pernikahan, masih belum juga ada tanda-tanda hamil. Walaupun kami sadar faktor utamanya ya karena LDM, Hanif terus mengusulkan gimana kalau dia tes sperma aja untuk screening awal apakah memang ada masalah infertilitas. Tapi kami juga kurang ngerti gimana prosedurnya dan apa aja yang harus di tes, jadi kayaknya butuh surat rujukan dokter nggak sih? :))

Ya sudah, akhirnya diputuskan cari obgyn sekalian untuk program hamil. Mumpung kami juga masih muda, jadi kalau misalnya ada masalah bisa cepat ditangani. Lagian, untuk program hamil setahu saya biasanya dokternya menyarankan untuk nunggu minimal setahun dulu. Jadi menyambut anniversarry pernikahan, promil deh kita. Harapannya, nanti di ulang tahun pernikahan kami, bakal ada kado berupa janin :))

Setelah cari tahu sana sini, pilihan akhirnya jatuh ke dr Edwin Kurniawan SpOG di RSIA Limijati Bandung. Kenapa?
Jujur pertimbangannya agak receh dan mungkin nyeleneh, tapi kalau memang ada yang pengen tahu:

1. Prakteknya di RSIA Limijati Bandung
Walaupun lokasinya relatif jauh dari kontrakan saya, tapi saya prefer obgyn yang praktek di rumah sakit ibu dan anak (RSIA), biar antri segala macemnya nggak sepanjang RS biasa yang pasiennya campur-campur. Daftar di rumah sakit ini juga bisa via aplikasi, jadi kalau pun ngantri cuma sebentar.

diambil dari website RSIA Limijati

Tema rumah sakitnya didominasi shocking pink yang agak ganggu tapi yaudalah ya :)) Parkirnya juga susah buanget. tapi ada fasilitas valley kok.

Selain itu dari  hasil browsing-browsing, ternyata RSIA Limijati ini juga punya fasilitas tes sperma yang cukup oke dan ada dokter spesialis androlog (Sp And) yang praktek--ya ini jaga-jaga kalau ternyata kami butuh konsultasi ke sana. Saya udah menelusuri jadwal dokter di beberapa rumah sakit, dan kayaknya nggak nemu androlog lain selain dr Adi Santosa Maliki, Sp And yang prakteknya ya di RSIA Limijati. Fasilitas untuk promil seperti inseminasi dan IVF pun ada di fertility centernya, kalau-kalau nantinya butuh.

2. Praktek di hari Sabtu
Sebagai pejuang LDM yang hanya bisa ketemu di weekend dan males kalau harus konsul usai jam kantor, ya ini satu-satunya jalan: cari dokter yang praktek hari sabtu. kebetulan dr Edwin Kurniawan dan dr Adi Santosa ini praktek sabtu! Yeay.

3. Ratenya relatif lebih murah
Sekali lagi, ini relatif ya. Kalau baca-baca kata orang sih, untuk promil mending sekalian cari yang sudah KFER (konsulen Fertilitas), tapi tentu tarifnya lebih mahal, dan antriannya lebih panjang. Saya pernah iseng nyoba daftar ke salah satu obgyn terkenal untuk masalah infertilitas di sana, H-3 sudah full. Aduh males. Kami waktu itu masih positif thinking, ya dokter juga kan cocok-cocokan. Belum tentu karena banyak yang cocok, terus cocok juga di kami. Siapa tahu masalah infertilitas kami nggak parah-parah banget, jadi mungkin nggak perlu sampai yang sudah menyandang gelar KFER. Harapannya begitu. Nah, dr Edwin Kurniawan ini ternyata juga anaknya dr Pories, salah satu obgyn yang terkenal juga di kalangan pasangan infertilitas. Ibu mertua juga sempat kenal dan cerita kalau beliau lumyan enak diajak diskusi. Jadi ya kami berdoa aja semoga cocok.


Udah, gitu doang cara milih dokternya HAHA.

Kelanjutan ceritanya bisa di baca di : Cerita Promil 2 - USG Transvaginal dan Tes Sperma

You Might Also Like

0 comments