Berjuang untuk Kebahagiaan

4:27:00 PM 0 Comments A+ a-


Sering kita mendefinisikan bahwa kita bakal bahagia kalau punya uang banyak, bebas foya foya mau beli apa pun. Saya juga begitu, tadinya.
Setelah hampir 23 tahun hidup, ternyata bener lho kalimat klise bahwa kebahagiaan nggak melulu terkait uang. Punya uang tapi hampa, nggak punya uang juga hampa. Ya saya tetep pengen punya uang sih, masa mau bergantung ke orang tua terus-terusan.
Tapi ada saatnya hidup rasanya stagnan, nggak maju, nggak mundur, nggak bergerak kemana-mana, jalan di tempat, stuck. Everything looks blake, stale, boring, and the worse thing is you have no idea what to do untuk mengubah keadaan.

Ada masa-masa ketika kita jadi banyak bengong dan jadi memikirkan, "Apa sih tujuan kita hidup di dunia ini? Kenapa Tuhan menciptakan saya? Why do I have to live like this? Kenapa orang tua saya begini dan begitu? Kalo hidup saya sekarang kayak gini, gimana nanti ke depannya? Kalo yang saya lakukan nggak berhasil, gimana? Gimana kalau saya selamanya nggak bisa bahagia?..." dan pertanyaan pertanyaan penting-nggak penting lainnya, and you get this empty feeling and a descending self esteem and feel so worthless. Ada yang ngerasa gini juga nggak sih? *nyari temen*

Saya sedang berada di fase ini, dan akan menuliskan sedikit reminder dari hasil bacaan di berbagai sumber dan pikiran yang pasti akan terdengar sok bijak dan naif, tapi mungkin berguna buat yang baca (kalo ada) terutama buat saya sendiri. 

Ketika berada di fase ini, maka percaya dan yakinlah, bahwa di balik sebuah kebahagiaan dan hidup orang lain yang tampaknya senang-senang saja, pasti di dalamnya ada kegagalan, perjuangan melawan dunia, keraguan atas keputusan yang sudah diambil, kegamangan karena tempat berpijak yang seperti pasir hisap, kebosanan, pelajaran berharga yang diperoleh dengan pahit, kegagalan, kegagalan, kegagalan, penerimaan diri, dan yang paling susah: "Perjuangan melawan ego dan diri sendiri" 

Saya pernah dengerin ceramah, bahwa sifat dasar syaiton adalah egois. Jadi, ego jangan banyak-banyak diturutin karena itu pasti bisikan syaiton.

Ketika lagi-lagi mengalami gelisah gundah gulana galau tentang "apakah yang saya lakukan ini bisa bikin masa depan saya bahagia?" , always, always, remember this mantra:

"If I keep worrying my future, how will I be able to enjoy my present?" 

Ini mantra yang terkesan menghibur diri, tapi dipikir-pikir benar juga sih.

Jadi for now, just enjoy whatever comes to you. Boleh kok ngeluh asal nggak overdosis. Boleh kok nangis malem-malem asal nggak setiap malam. Boleh kok ngadu ke Tuhan kalo udah nggak kuat. Yang penting, jangan putus asa karena kita nggak akan tau pelajaran keren apa yang bakalan kita kantongin, dan jangan lupa untuk terus bersyukur. Nggak semua orang berkesempatan nikmatin apa yang kita punya sekarang.
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Then which of the favors of your Lord will ye deny?
Al-Qur'an, 055 (Ar-Rahman [The Beneficent, The Mercy Giving])

Susah sih untuk terus nggak kepikiran, tapi kalau kita nggak nikmatin, bakal lebih susah lagi perjalanan hidup ini. Itu aja diinget. Mudah-mudahan seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan memfokuskan diri di SAAT INI, di DETIK INI, MENIT INI, SEKARANG, pikiran itu berangsur terdorong ke belakang, dan mendekam nyaman tanpa berniat untuk mendobrak keluar.

Saya janji ini adalah terakhir kalinya saya melakukan hal nggak berguna dengan hanyut dalam pikiran pikiran menyedihkan yang sebenernya belom tentu akan terjadi, karena pikiran negatif nggak akan bawa kita kemana-mana. Semoga setiap langkahnya dimudahkan dan dilancarkan. Beban akan semakin berat, semoga pundak kita selalu kuat.

Semoga beberapa tahun dari sekarang, saya bisa berbagi tentang kebahagiaan yang nggak hampa. Karena sekarang yang bisa dilakukan adalah fokus mengasah diri dan mengeluarkan kemampuan terbaik yang kita punya. selamat berjuang!
Have a good day, cheers!