Frequently Asked Question: Mempersiapkan Pernikahan

12:03:00 PM 0 Comments A+ a-

Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, sekarang lagi sibuk-sibuk nyiapin perintilan nikahan >_< ya ampun gemes-gemes  sendiri tapi saya sih berusaha kalem dulu aja, dan menolak jadi Bridezilla wkwk. Sudah 4 bulan persiapan, sudah setengah jalan! Sudah bisa lumayan (sok-sok-an) berbagi cerita. Iseng-iseng berbagi beberapa pertanyaan yang sering menghampiri dari teman-teman yang juga sedang berencana menuju ke arah sana, maupun yang sekedar ingin tahu, dirangkum aja dalam FAQ berikut, semoga bermanfaat :)).

Disclaimer: ini menjawab BUKAN berdasarkan hukum agama, negara maupun adat ya, tapi dari pengalaman, cerita orang dan sotoy-sotoy aja sih. Semoga tidak ada yang merasa disesatkan. 


pic from jamiedelaineblog.com



1. Kapan Waktu yang Tepat untuk Lamaran?
Kalau sudah ada calonnya :)
Oke, sori. Saya sih memandang lamaran ini tujuannya kan semacam tanda jadi mau menikah ya? Pada umumnya (atau keluarga saya), kalau belum ada "lamaran resmi" ya nggak mau booking gedung, katering, dsb. Lamaran jauh-jauh hari ini dibutuhkan untuk antri booking vendor-vendor maupun venue favorit, apalagi kalau di kota yang nggak terlalu gede, vendor favoritnya ya itu-itu aja. Kecuali kamu nggak masalah mau pakai vendor apa dan venue dimana aja, 3 bulan mungkin cukup. Kalau nggak pakai resepsi sih ya mungkin dua minggu juga cukup? wkwk.

Sebagai contoh, saya dan masnya kemarin, nentuin dulu kira-kira mau menikah kapan, lalu tarik mundur butuh persiapan berapa lama, ditambah waktu untuk meyakinkan orang tua kalau-kalau ditolak (Penting!), nah dapetlah tanggal lamaran resmi. Berapa lama persiapan ya tergantung kesanggupan kamu mikirin printilan resepsi, kalau saya ambil amannya minimal 8 bulan, dan sebelum itu sudah survey tanya-tanya vendor ke orang-orang wkwk. Beda cerita kalau pihak keluarga mengharuskan pakai hitung-hitungan weton maupun hitungan lain untuk menentukan tanggal pernikahan :)). Oh iya, kata WO saya, sekarang daftar ke KUA paling cepat 3 bulan sebelum hari H, nggak bisa lagi jauh-jauh hari kayak yang dulu-dulu. Tapi saya masih belum tau juga sih ini aturannya sudah berlaku atau belum, karena belum dilakukan HAHA. *pijet kepala*

2. Berapa Biaya untuk Seserahan dan Mahar?
Tergantung. Mas nya harus berani tegas dan budgetkan aja, nggak apa-apa. Saran dari temanku, seserahan baiknya tidak "down-grade" dari apa yang biasa mbaknya pakai. Misal mbaknya biasa pakai sabun The Body Shop, ya jangan diturunin jadi sabun grosiran Lotte Mart. Lebih bagus kalau mas-nya bisa beliin versi "upgrade" nya, misal jadi merk Loccitane. Ini simbolis aja, seolah menyatakan ke orang tua mbaknya bahwa masnya bisa take care anaknya dengan baik from head to toe. Tapi nggak mutlak ya, kalau nggak mampu ya udah yang merk biasa-biasa aja. Disesuaikan dengan keinginan mbaknya dan kemampuan mas nya aja. Penyesuaian yang sulit memang wkwk. Tapi inget mbak, kalau suami kita jadi mendadak miskin gara-gara beliin seserahan doang, kita juga yang nantinya menderita. Toh setelah menikah, masih ada banyak waktu buat minta beliin apa yang kita mau ;) Masnya juga yang ikhlas, jangan sampai merasa terbebani.

Tips: lebih enak kalau belinya dicicil. Atau mbaknya beli sendiri lalu direimburse kemudian, jadi yang dibeli memang yang disuka dan akan dipakai. Banyak cerita teman yang beli make up segambreng untuk pantes-pantesan seserahan, yang ujung-ujungnya kadaluarsa duluan dan terpaksa dibuang karena memang nggak biasa pakai make up. Jadi ya beli secukupnya aja dan pastikan memang akan dipakai.

Begitu juga dengan Mahar. Ada yang bilang mahar sebaiknya sesuai permintaan calon istri, dan sebaik-baik wanita adalah yang maharnya tidak memberatkan. Tapi kalau ngasih mahar kecil jadi serasa nggak menghargai istri. Wah bingung kan.

gif by giphy

Sama!

Katanya di zaman nabi pernah ada yang maharnya hanya sandal jepit. Tapi inget ya mas, sandal jepit itu pun memang satu-satunya harta yang dia punya. Artinya dia memberikan satu-satunya harta yang dia punya saat itu--yang paling berharga, untuk calon istrinya. Konon Rasul memberikan mahar 20 ekor unta muda kepada Siti Khadijah saat mereka menikah. Ketika Ali menikahi Fatimah, maharnya berupa baju besi milik Ali karena cuma itu pula satu-satunya harta berharga yang dimiliki Ali. Ya jadi agak aneh juga kalau calon suami pekerja kelas menengah tapi maharnya seperangkat alat solat atau hafalan ayat quran. HEHE. Tapi ya balik lagi ke preferensi masing-masing sih.

Kalau saya sih nggak minta exact amount of mahar ya, tapi saya menyarankan dari alokasi dana mas nya untuk menikah, sebaiknya yang paling didahulukan adalah mahar.

Jadi sekali lagi, ini memang sebaiknya diobrolin sama pasangannya karena setiap perempuan dan keluarganya pasti beda-beda. Sepakati aja. Tapi harus diinget, kunci dari mahar adalah kerelaan ;)

3.Berapa Biaya Resepsi dan Siapa yang Membiayai?
Tergantung jumlah undangan dan kelas vendor yang akan dipakai jasanya. Tentukan dulu budgetnya berapa, baru bisa menentukan jumlah undangan. Siapa yang membiayai? kalau di Jawa (cmiiw) yang "punya hajat" adalah pihak keluarga mbaknya, jadi mereka yang membiayai. Saya pernah diceritakan resepsi ini tuh semacam syukuran dan pengkhidmatan terakhir orang tua untuk putrinya sebelum dilepas jadi istri orang. Tapi kalau pihak mas nya mau biayain ya nggak papa banget. Ini biasanya jadi ngaruh ke jumlah undangan. Kasarannya, yang mayoritas "nyumbang" yang berhak porsi undangan lebih banyak.


4. Berapa Ideal Dana "Patungan" Pria untuk Resepsi?
Nggak ada standar idealnya sih, kalau mau fair-fair an ya pakai cara di poin no. 2 tadi. Berapa besar yang disumbangkan, dipersenkan terhadap total biaya pernikahan = persentase undangan.
Sebagai contoh gampangnya gini,
Total biaya pernikahan yang harus dikeluarkan = 100.000.000, dengan 100 undangan. Jika pihak masnya menyumbang 15.000.000, artinya 15% dari total biaya. Maka, masnya berhak mengundang 15 orang (15% x 100 undangan). Kecuali ternyata pihak keluarga mbaknya masih ada sisa undangan, ya boleh untuk masnya. Ini di luar biaya mas kawin, seserahan, dan lain-lain yang memang kewajiban masnya ya. Begitu juga dengan biaya acara yang sifatnya tidak melibatkan kedua belah pihak, sebaiknya di-exclude kan dari total biaya pernikahan. Terdengar pelit dan itung-itungan memang, tapi ya mau gimana lagi, ini titik tengah paling fair kalau budget dan jumlah undangan terbatas wkwk. Kalau budget unlimited sih ya bebaaassslah mau gimana.

Tips: Biar lebih enak dan tidak terasa memberatkan cashflow di awal, dibagi aja misal pihak masnya bayarin WO, MC, undangan, dokumentasi. Pihak mbaknya bayarin apa. Jadi ngasihnya bukan dalam bentuk uang, dan mengeluarkannya bisa dicicil. beberapa vendor malah memperbolehkan capeng hanya bayar DP dulu, pembayaran selanjutnya bertahap dan lunas saat acara usai.
Ada jugas sih yang ngasih amplop atau kotak berisi uang pas lamaran. Terserah aja nyamannya gimana.

Kalau dengan cara ini masih nggak bisa mengakomodir undangan dari pihak masnya, atau tamunya malah jadi terlalu banyak, ya bikin lagi aja satu acara tambahan: Ngunduh mantu. Resikonya ya capeknya dobel dan jadi nambah biaya lagi aja. Wkwk, monggo... kalau sanggup dan ada dananya sih sah-sah aja~

gif by giphy


5. Apa saja yang harus dipersiapkan untuk acara pernikahan (resepsi)? 
Banyak. Saya sangat terbantu dengan orang-orang yang rajin menulis tentang persiapan pernikahan di blognya. Walaupun domisilinya berbeda dan saya nggak mungkin pakai vendor-vendor yang mereka review, senang aja sih bacanya, merasa ada teman yang udah pernah ngalamin, jadi banyak belajar juga :))

Beberapa postingan paling berguna untuk gambaran apa saja yang perlu disiapkan adalah dari blognya mbak Puty (sok akrab): Sharing Tips Nyiapin Folder dan Persiapan Pernikahan.
Udah. Semua terangkum di situ, singkat namun lengkap dan detail, memudahkan hidup banget. wkwk.

---

Wah panjang juga.  Yah kira-kira itu beberapa hal yang menjadi pertanyaan umum menjelang persiapan pernikahan. Semoga bisa menjadi gambaran. Kuncinya, semua pihak harus terbuka. Sama-sama kasih insight dan sama-sama menjembatani dua keluarga yang akan besanan ini dengan baik. Sah juga kok, saling berbagi ekspektasi tertentu kalau ada. Baik ekspektasi kamu dan pasangan, atau orangtuanya. Asal dinegosiasikan dengan baik, karenaaaaa marriage is a lifetime negotiation.
Inget, menikah itu yang penting akad dan mahar (selain calon yang mau dinikahin), resepsi dan acara lain cuma pemanis aja. Jangan dijadikan beban ;)