How I Met Him #6 – Move On

4:13:00 PM

Saya tidak terlalu bisa menjaga hubungan baik dengan orang yang sama dalam waktu yang lama. Sahabat datang dan pergi sesuai masanya. Sahabat SD, dulu banyak karena SD nya juga pindah-pindah, namun tidak ada yang benar benar bertahan sampai sekarang. Sahabat SMP? Dulu punya 1 geng pas kelas 1 SMP, naik kelas lalu bubar. Kelas 2 SMP, saya berteman dengan banyak orang, dan tentu saja langsung menjauh menjalani kehidupannya sendiri ketika naik kelas. Kelas 3 SMP, sahabat saya kayaknya cuma Cintya seorang. Dia satu-satunya yang masih berhubungan lumayan intens bertahan sampai SMA dan sekarang.

Sahabat SMA? Banyak. Cintya salah satunya. Yang bertahan suka saya ajak berinteraksi sampai sekarang sih yah paling 3-4 orang. Orang ini termasuk Astri dan Hanif. Sisanya, kami berinteraksi di social media, atau mentok-mentok pas nyari temen kongkow di Cirebon, jatuhnya reuni ya?

Sahabat kuliah. Ini sih yang masih bisa saya keep. Mungkin karena sahabat kuliah muncul ketika sudah di era group chat semacem LINE. Lebih mudah untuk menjaga interaksi. Walaupun sudah beda domisili, masih ada grup curhatnya.

Saya nggak tau apa yang salah, teman-teman saya baik semua, saya juga rasanya nggak jahat-jahat amat. But yeah, people come and go.

Saya dan Hanif akhirnya sama-sama kuliah di Yogyakarta, di universitas yang berbeda. Saya senang, karena kami masih menjaga komunikasi walaupun sudah nggak satu sekolah. Seperti yang sudah dijelaskan di kalimat awal paragraf pertama, saya sulit menjaga hubungan pertemanan dalam waktu lama. Waktu itu era Blackberry Messenger (BBM).

Masa awal kuliah adalah masa adaptasi. Saya masih belum punya teman sebaik teman-teman SMA saya. Supaya nggak sedih-sedih amat, saya ke tempat cetak foto, lalu ngeprint berbagai foto saya bareng teman-teman SMA untuk di tempel di meja belajar. Semua foto yang dicetak selalu ada saya. Saya bareng si A, saya bareng si B, saya bareng geng C. Kecuali foto ini:


Saya nggak segitu terobsesinya sih, but I don't know why I did that. Just, WHY?
Saya punya banyak teman laki-laki pas SMA, tapi yang menjalin hubungan baik secara intens ya Hanif doang.

Ketika hubungan dan pacar saya yang waktu itu hampir 5 tahun berakhir selamanya dan memutuskan nggak akan balikan lagi no matter what, Hanif adalah salah satu yang saya datangi untuk curhat. Tentu saya sedih, 5 tahun pacaran, walaupun saya brengsek, saya juga sedih banget waktu itu.

Hanif menjalani masa ospek kampus yang membuat dia jadi sibuk, dan botak setahun. He still cute though. Oke, bukan itu poinnya. Kami jadi jarang ketemu. Saya pun memutuskan untuk move on dari Hanif. Karena rasanya, hubungan saya dan hanif ya cuma mentok sebagai sahabat. Dia nggak menganggap lebih, walaupun saya ngarep, tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya merasa saya jauh dari tipe idaman Hanif, melihat pacar-pacar jaman SMA nya. Lagian, kalau saya pacaran sama Hanif, saya jadi nggak punya temen laki yang saya bisa keep lagi dong. Punya temen laki, ganteng, baik dan bisa diandalkan kan menyenangkan?

You Might Also Like

0 comments