How I Met Him #9 – His Confession

4:43:00 PM 0 Comments A+ a-

I’m back to single market with broken heart, sekaligus jadi momen yang sangat menyenangkan karena sudah lama tidak menjalani kehidupan single. Ehehehehe. Main sesuka hati, mingle sana sini, dan yang paling menyenangkan, kembali hang out sama Hanif, as a friend.

Sebagai teman, Hanif memberikan perhatian yang berlebih. Saya nggak mau kege er-an, tapi saya beri dia peringatan berkali-kali 
“Aku nggak mau ya, pacaran sama kamu” and this time I mean it. 
Saya mau membuka lembaran baru, dengan orang yang baru. Buat saya, Hanif adalah crush masa SMA. Sudah lewat masanya. The end. Biar jadi sweet memories saja.

Hanif masih saja berkelakar, nggak mau juga jadiin saya pacar, maunya jadiin istri. Yah, terserah. Lagi pula waktu itu saya cukup disibukkan dengan tugas mahasiswa tingkat akhir, ada penelitian, rancang pabrik, kerja praktek, sibuk deh pokoknya.

Suatu hari saya lagi di luar belanja sama teman kuliah, datang whatsapp dari Firzal. Firzal ini teman dekat Hanif, teman SMA saya juga. Kos-kosannya dekat, 5 menit dari kos-kosan saya. Tumben amat, dia bilang mau mampir ke kosan saya, ada yang mau didiskusikan harus hari ini dan urgent. Berhubung saya masih di luar, saya minta dia nunggu sampai jam 21:30 kalau dia mau. Lalu dia setuju.

Begitu saya pulang, saya kabari Firzal. 5 menit kemudian dia bilang sudah di depan. Saya keluar, lalu terdengar suara firzal dan temannya nyanyi-nyanyi, begitu saya noleh, yang muncul Hanif, dan bawa spanduk. Spanduknya kayak gini:






APAAN NIH?

Saya nggak berekspektasi akan mendapatkan pernyataan cinta dari Hanif, wong saya sudah sering kasih peringatan. Hanif lalu bilang,
“Aku cuma mau kasih tau, aku serius sayang sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu kayak dulu lagi, hanya karena aku terlambat ngasih tau”
Saya masih mencerna ini pelan-pelan, speechless.
“Aku nggak tau harus ngomong apa”

“Kamu nggak perlu ngasih jawaban sekarang. Aku kayak gini cuma mau menegaskan aku serius, udah. Itu aja. Nih ambil aja spanduknya, terserah mau dijadiin apa, dibuang juga boleh.”
Tumbuh dewasa bersama drama korea membuat saya selalu ingin mendapat pernyataan cinta yang manis dan romantis. Ini pertama kali saya menerimanya, tapi sensasinya aneh, karena saya tidak berharap pernyataan ini datang dari orang macam Hanif.

Oke. Selesai. Lalu mereka pulang. Spanduknya saya foto, lalu saya share ke group chat sahabat kuliah saya. hahahahaha