How I Met Him #4 – Indikasi Erotomania

3:52:00 PM



Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau diceritakan dengan Bahasa Indonesia ya. Aduh maafkan ketidak konsisten-an ini wkwk. Mari kita lanjutkan saja ceritanya.

(episode sebelumnya bisa dilihat disini)

Ada banyak pengalaman saya dan dia yang kadang bikin saya merasa gr (gede rasa. OMG bahasa jaman kapan). Beberapa bahkan masih saya ingat dengan jelas, padahal kejadiannya sungguh kurang penting dan sudah sangat lama.

Pernah suatu hari saya dan teman-teman sekelas mau melayat ke salah seorang guru kami yang anaknya baru saja meninggal. Kita semua naik motor boncengan dan konvoy bareng-bareng. Saya dibonceng Astri. Di jalan kita bahas si Hanif pujaan saya ini. Kita cekikian—mungkin Astri jadi nggak fokus nyetir—lalu motor kami jatuh terpeleset di pasir. Saya terpental ke tengah jalan, Astri juga, dengan posisi jatuh lebih parah. Tepat di depan motor kami adalah motor Hanif. Dia langsung menghentikan motornya dan bantu saya berdiri. Beberapa teman membantu Astri—yang saat itu nangis meraung-raung, dan satu teman laki-laki lain yang phobia darah langsung duduk termenung di pojokan. Literally duduk termenung di pojokan, dengan wajah stres.

“aku nggak apa-apa kok. Liat nih bisa loncat-loncat” saya mengucapkan ini sambil loncat dan cengengesan, sok jagoan.

Padahal dengkul saya sobek berdarah-darah, tapi tertutup rok. Ini demi Astri supaya dia nggak terlalu merasa bersalah. Tau saya baik-baik saja akhirnya semua orang sibuk bantuin Astri karena dia nggak bisa jalan dan harus dibopong, lukanya terekspos dan dia nangis sesenggukan. Kebetulan lokasi kecelakaan itu dekat dengan puskesmas, jadi kita semua memutuskan untuk kesana untuk pertolongan pertama. Semua orang mengerubungi astri sambil bantuin dia jalan. Kecuali Hanif.


Saya jalan di belakang sendirian. Lalu Hanif nyamperin dan jalan di sebelah saya dengan ekspresi cemasnya—yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas setiap garis lekuk wajahnya saat itu. Kadang masih suka terngiang-ngiang (yes sampai sekarang)

“kamu bener nggak luka? Lah itu apa!” eh ternyata dia lihat lutut saya yang berdarah. “Sini duduk, dibersihin dulu”


Saya tau banget dia juga phobia darah persis temen saya yang waktu itu cuma bisa terduduk di pojokan. Dia ambil botol air mineral, lalu mencuci luka saya dan tangannya gemetar hebat :)) saya makin cekikikan, dan dia keukeuh maksa mau bantu bersihin.

COBA GIMANA EIKE NGGAK MAKIN LULUH LANTAH DAN GR?

Semua orang tampak nggak peduli sama saya, bahkan nggak ada yang daftarin saya di UGD buat dapet pertolongan pertama, yang didaftarin cuma Astri. Hanif satu-satunya yang perhatiin saya, bahkan bantuin bersihin luka padahal dia phobia darah. Sementara temen saya yang lain yang juga phobia darah cuma bisa duduk termenung.

yah kalau dipikir-pikir sekarang, menolong orang yang membutuhkan kan memang manusiawi ya. Semua orang normal akan melakukan itu sih selama dia masih punya hati nurani. Bisa dipastikan saat itu saya memang terindikasi mengidap erotomania. Untungnya masih dalam batas wajar sih, belum sampai mengganggu kualitas hidup :))





You Might Also Like

0 comments