How I met Him #8 – Pray

4:30:00 PM 0 Comments A+ a-




Hari-hari bahagia bersama A lama kelamaan semakin sedikit. Banyak hal yang awalnya kami kira cocok ternyata tidak bisa dicocokkan. Seorang teman pernah bilang, makin mirip sifat kita dengan sifat pasangan, makin sulit kita akur. Terbukti.

Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan menyebalkan tersebut setelah 2 tahun, kalau tidak salah. Saya sedih, nangis berhari-hari, sempat memohon balikan, ditolak, sedih banget. Kalau diingat sekarang, rasanya mau muntah.

Dalam waktu singkat, A punya pacar baru lagi. Tentunya saya makin sedih. Dan sekarang saya makin ingin muntah mengingatnya.

Saya benci banget sama si A ini. Saya sampai berdoa macem-macem supaya dapat pasangan hidup yang sangat kontradiktif dengan A dalam berbagai aspek, sampai ke hal sepele. A tidak suka makan sayur, saya berdoa sama Tuhan supaya dikasih pasangan hidup yang sangat suka sayur. A pernah mengejek saya (mungkin bercanda) karena saya nggak tau lagu-lagu top40 di chart radio pada umumnya, saya berdoa semoga dikasih pasangan hidup yang selera musiknya sulit ditebak, yang nggak dengerin top 40. Kira-kira begitu.

Doa saya yang lain—yang kurang penting—adalah semoga dapat pasangan hidup yang alisnya tebal, senyumnya manis ada lesung pipinya, orangnya tenang dan tidak meledak-ledak seperti saya dan A, yang sifatnya tidak mirip dengan saya, tapi selaras dan satu visi. Tentu saya berdoa hal-hal common seperti ingin dapat pasangan hidup yang pekerja keras, family man, bisa diandalkan, gentle, dewasa, dll dsb dkk.